Cari dengan kata kunci

Legenda_Batu_Cino_1200.jpg

Batu Cino, Tari Kreasi tentang Sepasang Kekasih yang Menepati Janji

Drama tari ini tak hanya menghibur, tapi juga bertujuan untuk melestarikan folklor Empat Lawang kepada masyarakat.

Kesenian

Seorang nenek duduk termenung di bale yang terbuat dari bambu, sementara sorotan lampu mengarah kepadanya. Kemudian, datanglah dua orang cucu kehadapannya. Mereka meminta sang nenek menceritakan sebuah dongeng seperti yang mereka lakukan setiap ingin tidur. Lantas sang nenek dengan semangat menceritakan sebuah dongeng yang berjudul Legenda Batu Cino.

Tari kreasi batu cino diangkat dari folklor tentang sepasang kekasih yang bernama Jaka dan Hasnah.

Cerita sang nenek kepada kedua cucunya tersebut menjadi bingkai pembuka bagi pementasan tari kreasi batu cino dari Kabupaten Empat Lawang, Sumatra Selatan. Legenda batu cino menceritakan sepasang kekasih bernama Jaka dan Hasnah. Mereka mengucapkan janji setia untuk kelak membangun rumah tangga bersama-sama. Namun, Jaka mengakui belum mampu untuk mewujudkan janjinya kepada Hasnah, ia pun lantas bertekad merantau ke negeri seberang.

Tak lama setelah kepergian Jaka ke negeri seberang, datanglah seorang pedagang Palembang ke wilayah Empat Lawang. Pedagang tersebut menggunakan perahu besar menyusuri Sungai Musi. Pedagang tersebut terkesima ketika melihat kecantikan Hasnah, dan berhasrat ingin menikahinya. Namun, ajakan sang pedagang ini ditolak mentah-mentah oleh Hasnah. Penolakan itulah yang kemudian membuat sang pedagang murka dan ingin membunuh semua orang kampung yang menghalangi niatnya untuk memperistri Hasnah.

Sebagai tari kreasi yang diadaptasi dari sebuah legenda, drama tari batu cino membutuhkan penari yang banyak.

Bersamaan dengan suasana yang memanas karena si pedagang melakukan pemaksaan kehendak, Jaka kembali ke tanah Empat Lawang untuk menggenapkan janji setianya kepada Hasnah. Ketika sampai di perkampungannya kembali, Jaka mendapati Hasnah sedang mendapat ancaman dari si pedagang. Jaka kemudian langsung melawan dan menyelamatan Hasnah. Pertarungan hebat antara keduanya pun tak dapat dihindari. Jaka akhirnya berhasil mengalahkan si pedagang, lalu menikahi Hasnah dan disambut gembira oleh warga kampung.

Sebagai tari kreasi yang diadaptasi dari sebuah legenda, drama tari batu cino membutuhkan penari yang banyak. Para penari tersebut mempunyai peranannya masing-masing, seperti menjadi nenek dan dua cucunya, para warga kampung, Hasnah dan Jejaka, hingga si pedagang dan pasukannya. Para penari perempuan yang berperan sebagai warga kampung mengenakan pakaian tradisional Sumatra Selatan, yaitu baju kurung, kain songket, dan penutup kepala.

Drama tari ini bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan legenda batu cino kepada generasi penerus.

Agar penonton mampu menghayati jalannya cerita, setting panggung dibuat berubah-ubah sesuai dengan potongan cerita yang sedang dimainkan. Selain setting panggung, hadirnya perahu layar membuat para penonton seolah masuk dalam konflik yang sedang dihadirkan. Drama tari sebagai bentuk seni pertunjukan, tidak hanya membutuhkan koreografer yang andal, tetapi juga sutradara yang akan mengarahkan setiap laku yang akan dimainkan.

Pengadaptasian legenda batu cino ke dalam sebuah drama tari bukan tanpa sebab. Selain berfungsi sebagai hiburan kepada masyarakat, drama tari ini juga bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan legenda batu cino kepada generasi penerus. Hal ini dilakukan agar folklor Empat Lawang tetap terjaga dan nilai-nilai luhur yang menjadi pesan di dalamnya dapat tersampaikan kepada masyarakat luas.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya