Cari dengan kata kunci

Gamelan Banyuwangi Mengiringi Gandrung

gamelan_banyuwangi_1290.jpg

Gamelan Banyuwangi Mengiringi Gandrung

Perpaduan gamelan Jawa, Bali dan sentuhan Eropa membuat pertunjukan tari gandrung begitu hidup.

Kesenian

KENDATI merupakan bagian dari kebudayaan Jawa, gamelan Banyuwangi mendapat pengaruh Bali yang kuat. Kedekatan geografis dan sejarah berpengaruh pada bentuk gamelan keduanya. Gamelan Banyuwangi sekilas menyerupai gamelan Bali. Namun ia memiliki bunyi lebih keras dan irama lebih cepat. Gamelan Banyuwangi biasa dimainkan untuk mengiringi tarian gandrung, salah satu kesenian asli dan tertua Banyuwangi.

Gandrung, yang artinya cinta atau tergila-gila, merupakan kesenian asli dan tertua Banyuwangi. Ia tak berbeda jauh dari kesenian rakyat di daerah lain seperti tayub, ronggeng dan cokek, yang tampil dalam bentuk tari dan nyanyian dengan iringan musik tertentu.

Menurut antropolog Belanda John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi (1927), kemunculan gandrung berkaitan dengan pengangkatan Mas Alit sebagai bupati dan pembabatan hutan untuk dijadikan ibukota baru Kerajaan Blambangan. Gandrung berfungsi sebagai hiburan sekaligus ritual mohon keselamatan dari marabahaya penunggu hutan.

Namun ada juga pendapat bahwa kemunculan gandrung berkaitan erat dengan seblang, salah satu ritual suku Osing. Ritual ini digelar untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Menurut Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang dan Gandrung, tari seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang.

Pada awalnya tarian gandrung dibawakan lelaki yang didandani menyerupai perempuan atau dikenal dengan istilah gandrung lanang. Mereka menari berkeliling dari rumah ke rumah atau pasar sambil menyanyikan gendhing-gendhing (lagu) tradisional Banyuwangi. Alat musik yang mengiringinya sederhana: kendang dan kempul (gong).

Seiring kuatnya pengaruh Islam, gandrung lanang perlahan menghilang. Gandrung kemudian identik dengan penari perempuan, hingga kini. Alat musik yang mengiringinya kian lengkap dengan tambahan kethuk, kluncing (triangle), dan biola.

Secara lengkap, musik pengiring gandrung terdiri dari satu atau dua kendang, satu kempul, sepasang kethuk, satu kluncing, serta satu atau dua biola. Kadang juga diselingi dengan saron Bali, angklung, dan rebana.

Kendang Banyuwangi hampir serupa dengan yang digunakan dalam gamelan Jawa, Sunda maupun Bali. Kendang berfungsi mengatur irama, menyatukan ritme dan tempo permainan agar lebih harmonis, serta penuntun atau pemantap unsur-unsur berbagai tari yang dibawakan penari gandung. Sementara kempul atau gong berfungsi sebagai pemanis suara pada akhir komposisi nada atau gendhing.

Kethuk, biasanya terbuat dari perunggu, berjumlah dua buah dan dibuat berbeda ukuran sesuai dengan larasannya. Kethuk estri adalah yang paling besar atau dalam gamelan Jawa disebut slendro. Sedangkan kethuk jaler dilaras lebih tinggi. Fungsi kethuk bukan sekadar penguat atau penjaga irama seperti pada gamelan Jawa, namun juga mengikuti pola tabuhan kendang sehingga mempermanis irama gendhing yang dibawakan.

Kluncing, alat musik berbentuk segitiga dan terbuat dari besi, dimainkan dengan alat pemukul dari bahan yang sama pada kedua bagian sisi segitiga. Suara yang dihasilkan membentuk irama dan suasana meriah. Dalam pementasan, pemain kluncing juga berfungsi sebagai pengundang atau pembimbing gandrung. Selain memainkan alat musik, dia harus bisa menari, bernyanyi, dan melawak agar pertujukan menjadi hidup dan segar.

Sementara biola, alat musik dari Eropa, mulai dipakai sekitar abad ke-19. Ceritanya, ada seorang warga Eropa menyaksikan pertunjukan gandrung. Dia lalu nimbrung dengan memainkan biola yang dibawanya. Irama dari biola itu membuat masyarakat sekitar terkesima. Sejak itulah biola digunakan dalam setiap pementasan tari gandrung. Penambahan unsur dari Barat ini tentu saja membuat iringan musik gandrung semakin tajam dan berwarna.

Jaap Kunst dalam Music in Java (1937) menyebut penggunaan dua biola sebagai musik pengiring gandrung terjadi belum begitu lama. Biola menggantikan alat musik yang disebutnya sebagai “shawms” –sebuah alat musik kuno dengan dua buluh, yang merupakan bentuk mula dari oboe. Murgiyanto dan Munardi menduga alat musik itu sejenis serunai, terompet, atau bahkan seruling. Sejak itu, biola mulai menggeser seruling karena dapat menghasilkan nada-nada tinggi yang tidak mungkin dikeluarkan oleh seruling.

Pemain biola berperan penting dalam setiap pertunjukan gandrung. Ia mempunyai fungsi sebagai pembawa melodi pada tiap gendhing yang dinyanyikan. Hal ini membuat pertunjukan gandrung tak bisa dipisahkan dengan instrumen biola.

Semua alat musik itu memiliki fungsi masing-masing. Namun, secara keseluruhan, gabungan instrumen alat musik pada gamelan Banyuwangi menjadikan pertunjukan tari gandrung begitu hidup dengan iringan suara gamelan ini. Kendang yang menghentak-hentak, gong serta kenong bertalu-talu, gesekan biola yang menyayat, dan dentingan kluncing yang tinggi, semuanya seakan-akan mengajak para pendengarnya agar segera datang untuk menyaksikan tarian gandrung yang memesona.*

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Gandroeng van Banjoewangi (1927), John Scholte
    Seblang dan Gandrung, Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi
    Music in Java (1937), Jaap Kunst

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.