Cari dengan kata kunci

binte_biluhuta_1290.jpg

Kebinekaan yang Nikmat dalam Semangkuk Binte Biluhuta

Perpaduan rasa yang ada pada hidangan sup ini, kerap dikaitkan dengan nilai keberagaman dan kesatuan dari beberapa kerajaan di tanah Sulawesi.

Kuliner

Sepanjang sejarah peradaban Nusantara, tak sedikit pertikaian antar kerajaan yang dapat diselesaikan melalui diplomasi meja makan. Lebih dari sekadar pengisi perut, makanan juga bisa menjadi alat pemersatu. Binte biluhuta salah satunya, yaitu makanan pemersatu dan pereda konflik dari tanah Sulawesi.

Sentuhan hangat dari masakan khas Provinsi Gorontalo ini, mampu ‘menyulap’ perpecahan dua kerajaan yang pernah bermusuhan menjadi suatu ikatan yang abadi. Tak hanya itu, binte biluhuta juga menawarkan nutrisi yang kaya protein dan serat bagi para penikmatnya.

Sentuhan hangat dari masakan khas Provinsi Gorontalo ini, mampu ‘menyulap’ perpecahan dua kerajaan yang pernah bermusuhan menjadi suatu ikatan yang abadi.

Konflik Gorontalo dan Limboto

Di dalam semangkuk binte biluhuta, tersibak bermacam-macam rasa yang bisa menggugah selera. Kekayaan rasa ini lahir dari pertempuran ‘seru’ dari berbagai rempah dalam proses pembuatan kuahnya.

Sensasi pedasnya dihasilkan oleh garam, merica, dan cabai, sementara rasa asamnya dihasilkan oleh jeruk nipis. Di tengah kelezatan itu, hadir pula rasa manis yang dihasilkan oleh jagung. Tak heran, perpaduan rasa yang ada pada binte biluhuta kerap dikaitkan dengan nilai keberagaman dan kesatuan dari beberapa kerajaan di Sulawesi.

Mengutip Setiawan (2021) pada Indonesia.go.id, penulis buku kuliner Jejak Kuliner Indonesia (2010), Mansoer Pateda, menyebutkan bahwa binte atau milu siram telah hadir sejak abad ke-15. Pada masa itu, beberapa kerajaan di Sulawesi seperti Kerajaan Gorontalo dan Kerajaan Limboto sering terlibat konflik. Namun, perdamaian akhirnya dapat tercapai berkat diplomasi kuliner yang dilakukan.

Mansoer Pateda menyebutkan bahwa binte atau milu siram telah hadir sejak abad ke-15.

Bercerai Kemudian Bersatu

Secara etimologi, “binte” atau “milu” mengacu kepada kata “jagung,” dan “biluhuta” memiliki arti “disiram.” Karena itulah, binte biluhuta dapat diartikan sebagai “hidangan berbahan dasar jagung yang dimasak dengan kuah” atau yang biasa dikenal dengan sup jagung. Pipilan-pipilan jagung di dalam binte biluhuta ini mengandung protein, serat, karbohidrat, mineral, vitamin B, dan vitamin C, serta sumber antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Binte biluhuta dapat diartikan sebagai “hidangan berbahan dasar jagung yang dimasak dengan kuah” atau yang biasa dikenal dengan sup jagung.

Di sisi lain, kelezatan binte biluhuta juga tak lepas dari nilai filosofis yang penuh makna. Konflik antara Raja Gorontalo dan Raja Limboto yang sering terjadi kala itu, disimbolisasikan dengan pipilan jagung yang memiliki arti “perpecahan.” Kemudian, pipilan jagung yang tercerai-berai itu dijalin oleh berbagai rempah bercita rasa lezat, sehingga terciptalah “persatuan.” Dari situ, binte biluhuta hadir sebagai simbol perdamaian dan persatuan hati yang pernah terpisah.

Jagung Khas Gorontalo

Sekilas, bite biluhuta terlihat mirip dengan bubur manado, karena sama-sama menggunakan jagung. Namun, bubur manado masih menggunakan campuran beras, sementara binte biluhuta menggunakan jagung murni sebagai sumber karbohidratnya.

Jagung yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan binte biluhuta ini adalah jagung pulut, varietas asli Gorontalo yang tidak dapat ditemukan di daerah lain, sehingga penampilannya terlihat berwarna kuning oranye. Tentu saja, jenis jagung ini dapat menciptakan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Agar lebih istimewa, masyarakat Gorontalo kerap menambahkan ikan cakalang atau udang sebagai hiasan. Tak hanya memperindah hidangan, hiasan ini juga berguna untuk menambah kejutan rasa di setiap sajian binte biluhuta.

Begitu nikmatnya sajian khas Kota Serambi Madinah ini, hingga diabadikan ke dalam penggalan lirik lagu yang dinyanyikan Eddy Silitonga pada era 1980-an. Penyanyi kelahiran Pematang Siantar itu melantunkan “Binte biluhuta, diyaluo tou weo, binde biluhuta, bome to hulondalo,” yang berarti “Jagung yang ada diberi kuah, tidak ada di tempat lain, jagung yang diberi kuah, hanya ada di Gorontalo.”

Tak hanya itu, kelezatan binte biluhuta pun telah menggerakan pemerintah untuk menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2016.

Kelezatan binte biluhuta menggerakan pemerintah untuk menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2016.

Menyajikan Binte Biluhuta di Rumah

Seperti membuat sup pada umumnya, membuat binte biluhuta juga tergolong mudah. Bahan-bahan dasar yang diperlukan adalah jagung, bawang merah, bawang putih, garam, kelapa parut, daun kemangi, potongan tomat, dan bawang goreng.

Mulailah dengan merebus air secukupnya dalam wadah hingga mencapai titik didih. Rebus jagung hingga lunak, lalu tambahkan irisan bawang merah, bawang putih, cabai yang telah diiris, serta garam. Terakhir, tambahkan ikan cakalang atau udang sebagai hiasan pembangkit selera makan.

Simak resep binte biluhuta yang bisa dicoba di rumah melalui pranala berikut. Selamat mencoba!

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Setiawan, A. (2021, July 10). id – Sup Pemersatu Khas Gorontalo. Indonesia. Diakses pada 18 Juli, 2023 dari https://indonesia.go.id/kategori/kuliner/2979/sup-pemersatu-khas-gorontalo?lang=1

    Kemdikbud. (n.d.). Beranda. Warisan Budaya Takbenda | Beranda. Diakses pada 18 Juli, 2023, dari https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=426