Cari dengan kata kunci

Berbagi Kue dan Kegembiraan dalam Ritual Sedekah Kue

11.-parawari-mempersiapkan-40-tampah-dalam-dua-banjar-untuk-diperebutkan-oleh-masyarakat-kampung-budaya-sindang-barang_.jpg

Berbagi Kue dan Kegembiraan dalam Ritual Sedekah Kue

Alun-Alun Kampung Budaya Sindang Barang hari itu nampak ramai meski matahari pagi terasa lebih panas dari biasanya. Masyarakat yang sebagian besar berasal dari Desa Pasir Eurih telah bersiap melakukan ritual sedekah kue, yaitu sebuah ritual dalam tradisi Seren Taun yang dilakukan setelah Neteupken, Ngembang ke makam leluhur, dan Ngala Cai Kukulu telah dilakukan. Ritual sedekah kue menjadi menarik lantaran masyarakat saling berlomba mendapatkan kue yang sudah didoakan.

Tradisi

Alun-Alun Kampung Budaya Sindang Barang hari itu nampak ramai meski matahari pagi terasa lebih panas dari biasanya. Masyarakat yang sebagian besar berasal dari Desa Pasir Eurih telah bersiap melakukan ritual sedekah kue, yaitu sebuah ritual dalam tradisi Seren Taun yang dilakukan setelah Neteupken, Ngembang ke makam leluhur, dan Ngala Cai Kukulu telah dilakukan. Ritual sedekah kue menjadi menarik lantaran masyarakat saling berlomba mendapatkan kue yang sudah didoakan.

Setelah masyarakat berkumpul, para kokolot keluar dari Imah Gede. Parawari pun terlihat mempersiapkan 40 tampah berisi kue-kue tradisional Sunda dalam dua banjar.  Ritual sedekah kue kemudian diawali oleh tetua adat yang menceritakan silsilah kampung Budaya Sindang Barang  dengan menggunakan bahasa Sunda. Pembacaan silsilah ini menjadi penting agar masyarakat tahu akar kebudayaannya, sehingga mampu merevitalisasi kembali kecintaan mereka pada tradisi Sunda.

Kemudian setelah pembacaan silsilah, seorang kokolot memimpin doa yang dibacakan untuk para leluhur dan kue-kue yang disajikan. Suasana kembali menjadi hening, hanya kepulan asap kemenyan yang tampak menyeruak tertiup angin. Bagi masyarakat kampung budaya di Kawasan Bogor ini, bakaran kemenyan tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang berbau magis. “Kita tidak tahu, apa-apa dibilang bid’ah, bakar kemenyan bukan berarti manggil setan, tujuannya hanya sekadar biar wangi. Kan nabi bilang, kalau wangi-wangi itu malaikat pada dateng,” ungkap Abah Maki, tetua adat Kampung Budaya Sindang Barang menjelaskan.

Ketika doa selesai, tanpa diberi aba-aba masyarakat saling berebut kue yang ada di hadapan mereka. Suasana hening berubah menjadi ramai, tawa dan canda serta ekspresi kegembiaraan tampak di wajah-wajah mereka yang saling berebut kue. Bagi masyarakat Kampung Budaya Sindang Barang, kue-kue tersebut kini tidak hanya menjadi sekadar makanan, tetapi juga terselip berkah bagi mereka yang memakannya karena sudah didoakan oleh para kokolot.
 
Ritual sedekah kue merupakan ungkapan rasa syukur atas berkah dan kesejahteraan yang diwujudkan dalam kegiatan saling berbagi kue. Kue-kue yang diperebutkan tersebut juga merupakan kue sumbangan yang berasal dari masyarakat sendiri. Sehingga  apa yang berasal dari rakyat akan kembali ke rakyat. Sedekah kue lebih dari sekadar ritual, di dalamnya terdapat suatu kearifan lokal masyarakat Sunda yang guyub dan saling berbagi, sebuah tradsi yang patut dijaga dan dilestarikan bersama keberadaannya. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.