Terbiasa menyaksikan ayah dan pamannya mengajar, Ni Ketut Arini pun tumbuh dengan kecintaan mendalam pada dunia tari—cinta yang kelak mengantarkannya menjadi salah satu maestro tari Indonesia. Ketertarikan Arini pada tari sudah muncul sejak usia sangat dini. “Saya mulai belajar dari umur 7 tahun,” kenang Wanita yang lahir di Denpasar, Bali, pada 15 Maret 1943 ini.
Selama hampir tujuh dekade berkecimpung dalam dunia tari, Ni Ketut Arini telah menjadi sosok penting yang tak terpisahkan dari perjalanan dan perkembangan seni tari Indonesia. Dedikasi yang ia bangun sepanjang hidupnya membuatnya tidak merasa pernah mengorbankan apa pun demi menekuni dunia tari. “Semua bisa diatur sesuai skala prioritas,” terang Arini dengan anggun.
Keluarga jelas menjadi pengaruh besar baginya saat mulai mendalami tari. Ia mengungkapkan bahwa pamannya sendiri adalah seorang guru tari dan ayahnya adalah guru tabuh. “Jadi ada orang datang dari kampung-kampung, desa di Bali untuk belajar menari,” ungkap Arini. Di situlah dia menjadi sangat tertarik akan dunia tari.
Ia mengungkapkan bahwa pamannya sendiri adalah seorang guru tari dan ayahnya adalah guru tabuh.
Bahkan, ketika Arini memperdalam seni tari di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), Arini berkonsultasi dengan ayahnya untuk tugas penciptaan tarian. “Sebagai sarjana muda saat itu harus ada karya penciptaan tarian, saat itu konsultasinya dengan ayah saya. Saat itu saya menceritakan diri saya sendiri karena saat itu karya tunggal,” kenang Arini lagi.
Di sekolah ini, Arini mempelajari teknik tari Bali secara teoretis dan praktik sebagai disiplin studi dan ekspresi seni, sehingga pemikiran-pemikirannya mengenai tari Bali semakin berkembang. Khususnya kepada tari legong.
“Sebenarnya dari baru bergerak itu saya sudah merasa bahagia, karena saat saya melihat, saya mengikuti, dan menjadi bisa. Itu yang menjadi kebahagiaan saya,” ceritanya.
Tari legong yang menjadi fokus Arini dalam mempelajari seni tari menginspirasi pribadinya secara mendalam. Menurut Arini, lewat tarian khususnya tari legong, kita bisa belajar konsentrasi dan menghilangkan dendam. “Di situ seperit kita belajar konsentrasi, menghilangkan cemas, tidak ada dendam, iri hati, seperti bahagia. Itu yang saya rasakan,” ujar Arini.
Bagi Arini, tari legong menjadi salah satu bentuk warisan budaya Indonesia yang ingin ia lestarikan. Kecintaannya terhadap dunia seni tari, serta khususnya tari legong, membuat Arini merasa mudah untuk melestarikannya.
“Kalau melestarikan berarti kita butuh tempat untuk mencurahkan. Ada saja orang yang mau belajar sehingga tidak ada kendala khusus, dan pakemnya saya sudah tahu,” jelas Arini. Bagi Arini, dalam melestarikan tarian sebenarnya lebih harus mempersiapkan pada energi.
Seni tari yang didalami Arini tentu mempengaruhi kehidupan pribadi dan keseharian Arini. Bahkan bagi Arini, menari disamakan seperti olaharga.
“Menari membuat saya ingin terus berlatih, sama seperti olahraga, badan harus terus dilatih, bukan paksaan,” tutur Arini.
Arini memiliki cara unik tersendiri untuk mendalami tari. Terbiasa mendengar musik pengiring tarian sejak kecil, membuat Arini peka terhadap nada dan langsung mampu menerjemahkan nada ke dalam setiap gerakan yang kemudian dikreasikan.
“Begitu mendengar lagunya, langsung saya simpan. Langsung saya mainkan lewat menabuh gamelan,” ungkap Arini.
Telah lama berkecimpung dalam dunia tari, kesulitan yang dialami Arini rupanya lebih cenderung kepada fisik. Arini pun menyarankan untuk bisa menjaga diri sendiri agar bisa mengatur tenaga dan energi ketika menari.
“Kesulitannya biasanya saat kita mengatur tenaga, perlu persiapan untuk energi. Seperti kita tidak bisa terlalu gemuk. Biasanya saya diingatkan oleh saudara-saudara dan semesta juga. Larangannya juga untuk menjaga kita tetap sehat,” terang Arini.
Arini sendiri telah mengkreasikan cukup banyak tari legong. Salah satu yang menjadi favorit Arini adalah tari legong narwastu yang ditarikan pada tahun 1980-an. Alasannya diungkap Arini karena lagunya indah dan penceritaannya bagus. Tari ini juga sering ditarikan orang, bahkan tarian ini bisa dikatakan berhasil go international karena ditarikan oleh orang-orang Amerika. “Rasanya bangga sekali,” imbuh Arini sumringah.
Salah satu yang menjadi favorit Arini adalah tari legong narwastu yang ditarikan pada tahun 1980-an.
Sebagai seniwati, Arini mengungkapkan bahwa ada saja tantangan sebagai perempuan dalam mempelajari dan memberdayakan tari-tarian Indonesia. Namun, selama kita punya kesempatan, niat, dan keinginan, serta tujuan, jadi jalani saja.
Selama perjalanan karier Ni Ketut Arini dalam dunia tari, salah satu yang paling dibanggakan oleh Arini sendiri adalah banyak anak-anak baru yang ingin menari. Bagi Arini ini adalah bentuk dari pelestarian kebudayaan Bali. Arini membuktikan bahwa rasa cintanya akan tarian telah menginspirasi banyak orang.
Selain itu, bentuk pelestarian yang ingin dilakukan Arini bagi karya tariannya, adalah membuat simposium. “Sebenarnya setiap karya pasti punya kebanggaan tersendiri, bahkan saya ingin karya-karya tari itu tidak hilang. Saya pun buat simposium dan kerja sama dengan teman-teman di ASTI dulu untuk menjaga tariannya dan untuk mengenalkan tarian yang sudah lama ada sebelumnya,” jelas Arini.
Sebenarnya setiap karya pasti punya kebanggaan tersendiri, bahkan saya ingin karya-karya tari itu tidak hilang.
Arini kemudian menambahkan bahwa waktu itu pernah ikut lomba tari antar kabupaten di Bali yang diadakan di daerah Bali utara pada tahun 1969. “Saya sampai datang belajar ke sana, karena dari daerah yang berbeda tenaga atau energinya lebih banyak,” kenang Arini. Saat itu Arini keluar menjadi juara satu dan sehingga Arini merasa harus mempertahankan di tahun-tahun selanjutnya.
Menurut Arini, kala itu tidak banyak anak-anak yang menari. Tidak seperti sekarang di mana keinginan menari sudah lebih banyak. Inilah yang membuat Arini merasa bangga karena bisa menginspirasi anak-anak muda untuk mau belajar.
Selain itu, pada masa itu, tidak ada banyak lomba seperti sekarang ini. Menurut Arini, dengan adanya lomba secara tidak langsung juga ikut menjaga kelestarian tari-tarian. “Saat itu tidak banyak yang ikut lomba. Rasa heroik kabupaten juga saat itu masih ada. Saat ini sudah banyak lomba,” ungkap Arini.
Menjadi seorang maestro tentunya diperlukan kemampuan yang mumpuni. Ni Ketut Arini tentunya memiliki hal ini. Arini menyatakan terbiasa menari membuat dirinya bisa menyanyikan tarian meskipun tidak ada gamelan atau musik pengiring. “Sudah terbawa ke kehidupan saya,” kata Arini.
Cara Arini menciptakan tarian juga cukup unik. Dengan kemampuan musikalitas Arini yang sudah terasah sejak masih sangat belia, Arini biasanya cukup menyanyikan atau menyenandungkan sebuah lagu yang kemudian direkam. Selepas itu, Arini akan meminta bantuan orang atau musisi yang bisa membuatnya menjadi lagu pengiring untuk tarian tersebut.
Sebagai maestro tari, Arini tentu aktif memberikan masukan dalam perkembangan tarian khususnya pada tarian tradisional Bali. Arini juga memandang lanskap dunia tari yang telah berkembang di masa kini sudah memiliki banyak variasi dalam tarian-tarian baru. Menurut Arini, variasi kebaruan ini menambah kekuatan dan dukungan yang baru. Arini mengapresiasi perkembangan ini.
“Kalau tarian lama memang tidak banyak. Tapi, saat ini sudah ada banyak variasi dalam tarian-tarian baru. Saya percaya ada kekuatan baru, support yang baru. Saya pikir itu juga kreasi anak muda masa kini. Asalkan tetap pakai pakem-pakem Bali yang sudah ada. Seperti ada sledet-nya, ngagem-nya, jalannya, harus tetap terlihat,” tutur Arini lagi. Arini juga mengingatkan untuk tetap serius dalam mengikuti setiap latihan tari.
Ni Ketut Arini juga kini mendirikan sanggar tari yang diberi nama Sanggar Tari Warini. Ketika ditemui di sanggarnya, Arini pun masih aktif mengajar langsung setiap murid-murid yang datang ke sanggarnya. Murid-murid Arini datang dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Bahkan, ada juga yang berasal dari luar negeri datang langsung dan secara khusus ingin diajar menari oleh Arini.
Ni Ketut Arini juga kini mendirikan sanggar tari yang diberi nama Sanggar Tari Warini.
Pengalaman mengajar Arini pertama kali dilakukan pada saat Arini masih duduk di bangku kelas 5 SD. Arini tidak pernah merasa bosan karena Arini melihat sendiri bagaimana paman dan ayahnya setiap pagi secara rutin mengajar di rumahnya dulu.
“Om saya setiap pagi jam 9 sudah mulai berlatih, sehingga itu menjadi hal yang biasa. Saya lakukan dengan disiplin dan jujur. Om saya bilang, kalau saya ingin mengajar dan menjadi guru, maka saya harus menjadi lebih pintar dari yang lain. Om saya mengajari teknik-teknik khusus akan postur saat menari,” kenang Arini.
Kedisiplinan dan tekad yang rajin saat belajar menari juga terus dipupuk Arini kepada setiap murid yang diajarnya. Menurutnya, kedua hal tersebut menjadi hal yang penting dan dasar jika ingin memahami setiap gerakan dalam sebuah tarian. “Harus terus memperbaiki, tidak menggampangkan,” tegas Arini.
Ketika disambangi di sanggar, Arini juga sedang mengajar beberapa murid yang akan mengikuti lomba dan pentas kesenian lokal yang ada di Bali. Mereka pun mengiyakan ketegasan dan kedisiplinan saat diajar oleh Arini.
“Saya awalnya di sanggar lain tapi tidak paham. Lalu, disuruh orang tua belajar di sini. Saya senang di sini karena Bu Arini mengajar dengan baik, tidak berlebihan dan mudah dimengerti,” ucap Dek Ukil yang berusia 11 tahun dan sudah belajar di Sanggar Tari Warini sejak tahun 2018 lalu.
Murid-murdi Arini juga kerap terpilih menjadi salah satu perwakilan komunitas tempat tinggal mereka masing-masing untuk tampil di perhelatan akbar Pesta Kesenian Bali. Hal ini tentu saja membuat Arini merasa bangga. “Itu membuat tari legong tetap lestari,” tutur Arini.
Selain itu ada juga murid-murid Arini yang berasal dari daerah selain Bali. Ada murid yang berasal dari Jakarta dan bahkan dari Jepang juga. “Awalnya, bertemu dengan Bu Arini di Jepang dan sudah saling mengenal selama 9 tahun. Saya memang suka menari. Jadi, ke sini untuk diajar oleh bu Arini. Namun, karena pandemi Corona jadi saya tidak bisa kesini selama 3 tahun,” tutur Hiromi yang berasal dari Jepang.
Meskipun tegas, namun kepiawaian Arini dalam menari dan mengajar begitu berkesan bagi murid-muridnya. Arini tidak memandang usia dan latar belakang muridnya. “Bu Arini menari dengan hati,” tandas Imanuel, murid Arini yang berasal dari Jakarta.
Bu Arini menari dengan hati.



