Didik Nini Thowok: Maestro Tari dengan Ekspresi Peran Ganda - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Didik Nini Thowok: Maestro Tari dengan Ekspresi Peran Ganda

DIDIK NINI THOWOK

Didik Nini Thowok: Maestro Tari dengan Ekspresi Peran Ganda

Sejak kecil menekuni seni tari, ketekunan Didik Nini Thowok mengantarkannya melewati tantangan hingga menjadi maestro.

Tokoh

“Tujuan saya adalah berkesenian dengan hati,” kata Didik Nini Thowok dari balik meja di salah satu ruang kerjanya di Sanggar Tari Natya Lakshita, Kota Yogyakarta.

Nama “Didik Nini Thowok” barangkali telah menjadi ikon penting dalam sejarah seni tari Indonesia. Namanya telah dikenal sejak era televisi hitam-putih, dan hingga kini hadir di berbagai platform digital di era modern. Seolah tak lekang oleh waktu, Didik Nini Thowok bukan hanya legenda hidup yang memberi pengaruh besar bagi banyak orang, tetapi juga sosok yang telah mengubah perjalanan hidup Didik Hadiprayitno.

Susunan gamelan dan macam-macam ornamen pertunjukan berderet di lantai bawah Sanggar Tari Natya Lakshita. Di dindingnya tak sedikit potret foto, kliping, dan penghargaan berbaris memenuhi seluruh ruang di rumah berlantai tiga itu. Langit tampak mendung dan hujan baru tuntas mengguyur Kota Yogyakarta, hingga memaksa Didik Hadiprayitno mengenakan sweater model turtleneck berwarna toska. Di sebuah ruang tertutup, Didik bercerita tentang masa lalunya.

Perkenalan Didik dengan dunia seni telah dimulai sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Kota Temanggung, Jawa Tengah, menjadi saksi bagaimana Didik kecil tumbuh menjadi pecinta seni tradisional. “Kakek itu penggemar wayang kulit, sering ajak saya nonton wayang kulit. Kemudian juga setiap ada pasar malam, nenek ajak saya nonton ketoprak, wayang wong, ada ludruk dan sebagainya, kesenian-kesenian tradisional,” cerita Didik dengan ramah. “Itu awal mula saya tertarik dengan dunia tari. Nanti di rumah saya ikut-ikutan nari.”

Kota Temanggung, Jawa Tengah, jadi saksi bagaimana Didik kecil tumbuh menjadi pecinta seni tradisional.

Didik ingat, aktivitas menarinya kemudian dapat tersalurkan ketika ada acara di sekolah dan di kampung. Begitu juga di gereja saat merayakan hari Natal. Ada cerita menarik yang selalu diceritakan Didik ketika mengenang masa kecilnya saat sedang gatel belajar menari, yaitu pertama kali belajar tari Bali dari seorang tukang cukur rambut yang berada di dekat rumah neneknya.

“Suatu saat setelah saya mempelajari tari Jawa dengan temen-temen di kampung, saya iseng nanya ke tukang cukur yang selalu mangkal di kios depan rumah nenek. Namanya (Almarhum) Pak Sugianto,” katanya.

“Begitu beliau bilang bisa (tari Bali), berbunga-bunga (perasaan) di sini. Saya pengin belajar,” sambung Didik.

Hari demi hari dijalani Didik kecil dengan giat berlatih tari Jawa dan Bali. Didik merasa bangga karena ibu dan neneknya selalu mendukungnya untuk menekuni apa yang ia cintai. Namun, bak dua sisi mata uang, tak sedikit pula pandangan sebelah mata dari orang lain ketika melihat seorang anak laki-laki memiliki ketertarikan pada dunia tari pada masa itu.

Didik merasa bangga karena ibu dan neneknya selalu mendukungnya untuk menekuni apa yang ia cintai.

“Kalau kata ibu, banyak yang dari keluarga itu nggak suka saya menari, karena laki-laki,” ungkap Didik. “Kalau mau menari itu, saya diajak ibu sama nenek ke stasiun kuno.” Didik kerap menjadikan suasana stasiun kuno yang relatif sepi sebagai tempat belajar menari, guna menjauhkan diri dari keberadaan anggota keluarga yang memiliki pandangan berbeda.

Tak pernah sebelumnya terlintas dalam pikiran Didik bahwa kelak akan melanjutkan kecintaannya akan tari-tarian hingga jenjang perguruan tinggi. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) pada 1972, Didik memilih untuk bekerja sebagai pegawai honorer di Kantor Pembinaan Kebudayaan atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Dinas Kebudayaan. Satu-satunya cara melanjutkan mimpinya tentang dunia tari adalah dengan menjadi guru tari di kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Temanggung.

Hingga suatu saat, pandangan Didik untuk tetap melanjutkan keterampilan menarinya di perguruan tinggi seni didapatkannya dari Indarti, kakak dari teman sebayanya. Indarti merupakan sosok yang mendorong Didik untuk memilih Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta sebagai tempat menimba ilmu tari demi masa depan yang lebih terarah. Didik masih mengingat pesan Indarti bahwa keterbatasan biaya seharusnya tidak menjadi penghalang untuk terus meraih mimpi.

Didik masih mengingat pesan Indarti bahwa keterbatasan biaya seharusnya tidak menjadi penghalang untuk terus meraih mimpi.

“Saya enggak punya uang, Mbak. Terus dia bilang, ‘Kan, Dik Didik sudah mengajar nari, dapat uang. Nanti kalau kuliah di sana, kalau diajak pentas juga dapat honor,’” ujar Didik menirukan ucapan Indarti kala itu. “Ucapan itulah yang memicu saya untuk melanjutkan kuliah. Jadi, saya benar-benar harus mandiri.”

Jejak kesenian Didik Hadiprayitno di ASTI Yogyakarta pada tahun 1974 menjadi perjalanan penting dalam hidupnya. Kemandirian yang kuat untuk menanggung biaya hidup dengan mengajar tari dan membuat hiasan bordir, jadi penyangga kokoh untuk Didik terus mengasah keterampilannya dalam menari. 

“Banyak tantangannya, tapi itu bisa saya lewati,” pungkas Didik.

Selayaknya seniman muda, ada banyak pengalaman berharga yang dilalui Didik selama menjadi mahasiswa ASTI. Salah satu yang kemudian mengubah hidupnya adalah pertemuan Didik dengan Bekti Budi Hastuti atau yang akrab disapa Tutik. Diceritakan Didik, Tutik merupakan senior di kampus sekaligus asisten dosen saat perkuliahan. Satu tahun sebelum Didik menjadi mahasiswa tari, Tutik telah menciptakan karya tari komedi yang diberi judul tari nini thowok. Ketika Didik mulai aktif di kampus, Tutik kemudian mengajak Didik untuk bergabung dan memperkuat koreografi Nini Thowok yang telah dirintisnya bersama Sunaryo dengan nama Bengkel Tari Nini Thowok.

“Lalu tarian ini dipentasin atau diputar di stasiun TV seluruh Indonesia. Nah, itu kemudian mulai dikenal masyarakat luas, sehingga kalau di jalan mereka ingat… Mereka manggil saya, ‘Hei Nini Thowok’,” cerita Didik yang kemudian mulai dikenal dengan nama panggung Didik Nini Thowok.

Tari Cross Gender dan Dwimuka sebagai Introspeksi Diri

Seiring berjalannya waktu, popularitas dan keterampilan Didik Hadiprayitno—yang dikenal sebagai Didik Nini Thowok—kian menunjukkan ketangguhannya. Kerja keras yang ia tekuni sejak masa kecil hingga bangku perkuliahan semakin mengukuhkan keyakinannya untuk terus menapaki dunia seni tari Indonesia. Tak tanggung-tanggung, keteguhan untuk mengabdi pada seni tari tersebut diwujudkan melalui praktik latihan intens yang dijalani Didik dengan nyantrik kepada para maestro tari.

Pada masa itu, Didik muda telah membenamkan diri dalam latihan-latihan penting bersama sederet penari legendaris. Ia belajar tari Jawa di Yogyakarta bersama Romo Sasminta Mardawa, kemudian menimba ilmu dari S. Ngaliman Condropangrawit di Surakarta. Didik juga berguru kepada Sri Kamini Sukanto, penari gambyong; Rusman dan Darsi, penari wayang wong Sriwedari Surakarta; Sawitri, penari topeng Cirebon; Ni Ketut Reneng dari Bali; serta empu tari topeng Rasinah dari Indramayu. Para maestro tersebut tidak hanya mengasah keterampilan gerak Didik Nini Thowok, tetapi juga membentuk jiwa dan nilai spiritualnya. Ketulusan dan keseriusannya dalam belajar tari bahkan mengantarkannya berjumpa dengan penari-penari ternama dari luar negeri.

Dari sekian banyak tarian yang pernah ia geluti, Didik merasa lebih sahih ketika mementaskan tarian-tarian yang lekat dengan karakter feminin. Penghayatan tersebut telah ia rasakan sejak kecil, seiring kecenderungannya menampilkan ekspresi diri sebagai anak laki-laki yang feminin. “Kalau saya belajar menari, itu memang saya lebih cocok dengan tari-tari perempuan. Kalau (tarian) yang gagah saya merasa enggak pas,” kata Didik.

Meskipun cemooh dan bullying kerap kali membuat Didik sedih, tapi tak sedikit pun menggoyahkan keyakinannya untuk menjadi seorang penari berbakat. Tak mau menyerah atau membalas cibiran orang lain dengan perkataan dan sikap yang buruk, Didik justru membalasnya dengan karya seni. Peluh latihan dan jam terbang yang semakin bertambah, membuat Didik semakin yakin untuk menjadi seniman tari cross gender. “Tradisi seni cross gender sebenernya sudah ada sejak zaman dulu, bukan hal yang baru,” tuturnya.

Secara harfiah, tari cross gender dimaknai sebagai praktik menari ketika perempuan menampilkan tarian berkarakter laki-laki, atau sebaliknya, laki-laki menampilkan tarian berkarakter perempuan. Penekanannya terletak pada persilangan gender, sementara bentuk gerak tetap mengikuti pakem tarian yang bersangkutan.

Didik kemudian menyebut bahwa konsep ini sudah ada sejak lama di tengah masyarakat, khususnya di ranah kesenian. Misalnya, Didik menyebut bahwa tarian wayang wong di Keraton Yogyakarta pada masa kepemimpinan Hamengkubuwana VII semuanya diperankan oleh laki-laki. Karena pada masa itu, ada yang menyebut bahwa perempuan tak elok jika harus tampil di hadapan publik. Hal semacam inilah yang kemudian membuat persilangan gender terjadi dalam seni tari.

Selain tari cross gender, Didik juga memopulerkan tarian bertopeng yang dikenal sebagai tari dwimuka. Melalui tarian ini, Didik ingin menyampaikan makna yang mendalam. Saat tampil di atas panggung, ia mengenakan topeng berwajah cantik di bagian belakang kepala, sementara bagian depan dirias dengan karakter yang aneh atau buruk rupa. Ketika menarikan topeng berwajah cantik tersebut, Didik menghadapi keterbatasan gerak karena harus menari dalam posisi terbalik atau mundur. Langkah kaki menjadi terbatas, demikian pula gerakan tangan yang harus berada di bagian punggung.

Menarikan tari dwimuka, bagi Didik merupakan penggambaran dualisme di dalam sosok diri manusia. Didik menyebut bahwa setiap manusia punya keterbatasannya, sekalipun berparas menawan. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang berpenampilan buruk rupa mungkin saja memiliki ketulusan hati yang lapang dalam setiap laku hidupnya. Lebih jauh, Didik ingin mengingatkan bahwa perbedaan gender, dualisme sifat manusia, dan keterbatasan adalah hal yang wajar dalam kehidupan ini.

Menarikan tari dwimuka, bagi Didik merupakan penggambaran dualisme di dalam sosok diri manusia.

“Bahwa manusia itu punya sosok yang maskulin dan feminin, tinggal mana yang dominan,” jelas Didik dengan nada mengingatkan. “Intinya, sebenernya tentang itu, kita belajar introspeksi lah kepada diri sendiri.”

Hasil yang Tidak akan Mengkhianati Usaha

Setumpuk karya telah dipentaskan Didik Nini Thowok, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hingga ke mancanegara. Pria yang tumbuh besar di Temanggung ini tak pernah menyangka bahwa ketekunannya menekuni seni tari akan membawanya menjejakkan kaki di Eropa. “Saya melakukan itu dengan hati, dengan tulus, tanpa ada tendensi yang macam-macam,” ucap Didik ketika mengenang apa yang telah dilakukannya selama lebih dari 50 tahun di dunia seni. 

Kerja keras dan pengorbanan Didik akhirnya membuahkan hasil. Ungkapan ‘hasil tidak akan mengkhianati usaha’ menjadi pembuktian dari apa yang selama ini dilakukan oleh Didik. Misalnya saja, salah satu organisasi pelestarian budaya Tionghoa, Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC), menobatkan Kwee Tjoen An atau Didik Hadiprayitno alias Didik Nini Thowok sebagai salah satu maestro seni tari keturunan Tionghoa pada bulan Januari 2023 lalu.

Pada 2022, Didik juga menerima Penghargaan Akademi Jakarta atas sumbangsihnya dalam berkarya di bidang seni. Penghargaan tersebut diberikan sebagai pengakuan atas dedikasi dan perjalanan panjang hidupnya dalam dunia seni tari Indonesia. Meski telah diakui sebagai legenda hidup dan maestro kesenian, Didik hanya ingin dikenang sebagai seorang seniman “gila” atas apa yang telah ia lakoni.

“Yang penting sejarah itu jangan sampai hilang. Mudah-mudahan saya nanti dikenal sebagai sosok; pernah ada seniman keturunan Tionghoa yang agak ‘gila’ tapi bisa nari macem-macem yang pernah punya kontribusi mengenalkan seni cross gender di masyarakat luas di Jogja, di Indonesia, maupun di luar negeri,” ucap Didik sambil tersenyum.

“Mudah-mudahan kontribusi yang kecil ini bisa mewarnai seni budaya di Indonesia. Itu aja. Lebih baik kita dianggap ‘gila’ daripada mengaku waras tapi sebenernya gila,” tutupnya.

Lebih baik kita dianggap ‘gila’ daripada mengaku waras tapi sebenernya gila.

Informasi Selengkapnya
  • Ditulis oleh Arlingga Hari Nugroho