Seorang pemuda memasuki panggung dengan iringan musik bernuansa Melayu. Baju adat Pariaman melekat indah di tubuhnya. Pemuda tersebut melakukan gerakan menunduk dengan telapak tangan menyentuh lantai. Kemudian, dua kelompok muda-mudi keluar bersamaan dari arah kiri dan kanan. Itulah bagian awal pementasan tari tradisional Pariaman yang bernama tari indang.
Tari indang merupakan tari muda-mudi yang selalu dipentaskan setiap kali diadakan upacara tabuik—upacara yang dilakukan masyarakat Minang dalam rangka memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad setiap tanggal 10 Muharam. Tari indang merupakan tari tradisional yang diciptaan oleh Rapa’i. Rapa’i merupakan pengikut setia Syekh Burhanuddin—seorang tokoh terpandang yang selalu memperingati upacara tabuik di Pariaman.
Tari indang merupakan tari muda-mudi yang selalu dipentaskan setiap kali diadakan upacara tabuik.
Dilihat dari gerakannya, tari indang hampir mirip dengan tari saman dari Aceh. Namun, tarian ini memiliki gerak yang lebih variatif dan dilengkapi properti berupa gendang rebana.
Dalam masyarakat Pariaman, gendang rebana dikenal sebagai gendang Rapa’i, merujuk pada nama pencipta tarian ini. Instrumen kecil berbahan kulit kambing tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai properti, melainkan menjadi elemen musik utama yang menentukan ritme dan kekuatan pementasan.
Sepanjang pertunjukan, seorang syekh turut melantunkan syair-syair bernuansa Islami.
Selain bunyi rampak dari gendang Rapa’i, iringan musik diperkaya oleh alunan marwas, perkusi, kecrek, dan biola. Sepanjang pertunjukan, seorang syekh turut melantunkan syair-syair bernuansa Islami yang berisi ajaran kebaikan, penghormatan kepada Nabi, serta kepatuhan kepada perintah Tuhan.
Seiring perkembangan waktu, tarian ini tidak lagi terbatas pada upacara tabuik. Pementasannya kini kerap dijumpai dalam berbagai acara, seperti penyambutan tamu kehormatan, pengangkatan penghulu, hingga festival budaya. Keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan seni Nusantara sekaligus cerminan karakter masyarakat Pariaman yang bersahaja, saling menghormati, dan berpegang pada nilai-nilai budaya Melayu.









