Tana Beru, Kampung Pembuat Perahu Pinisi di Bulukumba - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

perahu_pinisi_1200.jpg

Tana Beru, Kampung Pembuat Perahu Pinisi di Bulukumba

Suara pahat dan aroma kayu menjadi bagian dari keseharian Tana Beru, kampung yang melahirkan perahu pinisi kebanggaan Nusantara.

Pariwisata

Selain menawarkan keindahan alam, pasir putih, dan air yang jernih, Pantai Tanjung Bira juga menyimpan suatu pesona yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang. Siapa sangka, tidak jauh dari pantai tersebut, terdapat desa pesisir yang penduduknya berprofesi sebagai pembuat perahu pinisi. Terletak di Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Tana Beru, perkampungan pesisir pembuat perahu pinisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke kawasan Tanjung Bira.

Perahu pinisi merupakan perahu tradisional masyarakat Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan.

Perahu pinisi merupakan perahu tradisional masyarakat Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Tradisi pembuatannya telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad, menjadi salah satu simbol kejayaan maritim Nusantara sekaligus kepiawaian masyarakat Indonesia dalam membangun kapal kayu. Pada awal perkembangannya, pinisi mengandalkan tenaga angin melalui sistem layar sebagai penggerak utama sebelum akhirnya banyak dilengkapi mesin pada era modern.

Seiring perkembangan teknologi, banyak perahu pinisi kini telah dilengkapi mesin diesel sebagai tenaga penggerak, tanpa meninggalkan bentuk dan teknik pembuatannya yang khas. Ukuran kapal pun bervariasi, bergantung pada fungsi dan kebutuhan pemesan. Proses pembuatannya melibatkan lebih dari sepuluh perajin dan dapat memakan waktu berbulan-bulan, bergantung pada ukuran serta tingkat kerumitan kapal.

Ritual-ritual dalam pembuatan perahu masih terus dilakukan hingga saat ini.

Secara garis besar, terdapat tiga bagian dalam perahu pinisi, yaitu bagian atas, bagian utama, dan bagian belakang. Sementara itu, bagian bawahnya dilapisi oleh fiber keras sehingga bisa menahan air. Yang menarik, walaupun pembuatan perahu pinisi sudah terpengaruh modernisasi, ritual-ritual dalam pembuatan perahu masih terus dilakukan hingga saat ini.

Menurut pengakuan pekerja yang kami temui, ritual awal dalam pembuatan sebuah perahu pinisi ditandai dengan seorang pawang perahu memotong bagian dasar pembuatan perahu yang biasa disebut dengan “lunas”. Kemudian, disediakan sesajen berupa makanan yang manis-manis dan memotong seekor ayam putih. Makanan yang manis merupakan simbol harapan agar perahu yang hendak dibuat akan mendatangkan hoki bagi pemiliknya, sementara darah yang ditempelkan pada “lunas” merupakan simbol agar tidak terjadi kecelakaan saat membuat perahu.

Perahu pinisi berukuran besar dengan tenaga mesin diesel dijual dengan harga yang  fantastis, bisa mencapai Rp2 miliar.

Setelah selesai dikerjakan, biasanya perahu digunakan untuk pelayaran ekspedisi membawa barang-barang dagangan. Tapi kini, tak jarang orang yang sengaja membelinya sebagai perahu pesiar pribadi. Perahu pinisi berukuran besar dengan tenaga mesin diesel dijual dengan harga yang  fantastis, bisa mencapai Rp2 miliar. Pembelian dilakukan dengan pemesanan terlebih dahulu. Orang yang membeli bisa menentukan model perahu beserta interior di dalamnya, tentu ini disesuaikan dengan anggaran yang sudah disepakati. Tapi yang menarik, ada ritual-ritual tertentu lagi yang harus dilakukan setelah perahu selesai dikerjakan. Setelah itu, perlu waktu sebulan untuk menggerek perahu dari bibir pantai menuju ke laut lepas. Ada yang berminat membeli?

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya