Cari dengan kata kunci

Sendang Sedayu, Sendang Maerokoco: Tempat Penyucian dan Introspeksi Diri

sendang_sedayu_1200.jpg

Sendang Sedayu, Sendang Maerokoco: Tempat Penyucian dan Introspeksi Diri

Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco merupakan dua sumber air yang sangat penting dalam ritual kebudayaan masyarakat dataran tinggi Dieng. Dua sumber air ini dianggap sebagai air suci yang dapat membersihkan diri dan jiwa umat yang ingin bersembahyang di Kompleks Candi Arjuna.

Pariwisata

Terletak di Kompleks Candi Arjuna, tepatnya sebelum Anda memasuki kompleks candi, terdapat sebuah situs penyucian diri. Situs ini terdiri dari dua sumber mata air dan sebuah bangunan mirip yang bentuknya mirip pendapa.

Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco merupakan dua sumber air yang sangat penting dalam ritual kebudayaan masyarakat dataran tinggi Dieng. Dua sumber air ini dianggap sebagai air suci yang dapat membersihkan diri dan jiwa umat yang ingin bersembahyang di Kompleks Candi Arjuna.

Secara etimologi, “sendang” berarti kumpulan air suci, sementara “rahayu” berarti membersihkan diri. Karenanya, “sendang sedayu” dapat diartikan sebagai mata air suci yang digunakan untuk membersihkan diri.

Lain halnya dengan Sendang Maerokoco. Nama “maerokoco” disematkan pada sumber air ini merujuk pada sosok Gatotkaca. Ketika dilahirkan, Gatotkaca tidak bisa melihat. Di sumber mata air ini, setiap orang yang datang diharapkan dapat melakukan introspeksi terhadap semua hal yang pernah dilakukan.

Di dekat Sendang Maerokoco, tepatnya di bawah pohon cemedi yang menaungi sumber air ini, terdapat makam Panglima Kumbang. Panglima Kumbang merupakan salah seorang panglima di masa Mataram Islam.

Ritual penyucian diri akan dimulai di Sendang Sedayu lalu ke Sendang Maerokoco dan berakhir di sebuah bangunan yang disebut Dharmasala. Dharmasala merupakan sebuah tempat bagi para umat untuk merapikan pakaian sebelum beranjak ke tempat persembahyangan.

Dharmasala juga berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para umat dan mendengarkan penjelasan tata cara peribadatan yang dijelaskan oleh seorang biksu.

Dharmasala merupakan bangunan panggung. Bagian atas atau panggung bangunan ini memang sudah mengalami beberapa kali pergantian karena faktor pelapukan. Tapi, batu-batu di bawahnya yang menjadi pondasi tidak pernah mengalami pergantian.

Sendang Sedayu, Sendang Maerokoco, dan Dharmasala diperkirakan sudah ada bersamaan dengan dibangunnya Kompleks Candi Arjuna pada sekitar abad 8 masehi. Bahkan, ada sumber yang menyebutkan keberadaannya lebih tua, karena berkaitan dengan kepercayaan Kapitayan. Kapitayan merupakan sistem kepercayaan yang dipeluk masyarakat Dieng sebelum masuknya Hindu dan agama-agama lain. Dalam kepercayaan ini, keberadaan air atau sumber air sangat penting karena dianggap sebagai tempat awal kehidupan.

Sementara, dalam Agama Hindu ada dua hal penting dalam penentuan tempat pembangunan peribadatan. Dua hal tersebut adalah berada di ketinggian dan adanya sumber mata air yang dianggap suci.

Ketiga tempat ini menjadi bagian yang terpisahkan dari acara sakral masyarakat Dataran Tinggi Dieng, ruwatan anak berambut gimbal. Di ketiga tempat inilah, anak-anak berambut gimbal yang akan dipotong rambut gimbalnya dan dimandikan atau disucikan.

Sendang Sedayu, Sendang Maerokoco, dan Dharmasala berada di Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Karena berada di area Kompleks Candi Arjuna, tiket masuk ke area ini tergabung dengan tiket masuk Kompleks Candi Arjuna. [Agung/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.