Cari dengan kata kunci

Desa Sade, Sebuah Oase di Timur Indonesia

1354_thumb_Desa_ini_terletak_di_Desa_Rembitan_Lombok_Tengah_Lombok_NTB.jpg

Desa Sade, Sebuah Oase di Timur Indonesia

Suku Sasak merupakan suku yang mendiami Pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-harinya.

Pariwisata

Di Lombok tengah, tepatnya di Desa Rembitan, Pujut, terdapat sebuah dusun yang masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat Suku Sasak. Suku Sasak merupakan suku yang mendiami Pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan sehari-harinya.

Sebagian besar Suku Sasak bergama Islam, sementara sebagian yang lain memeluk kepercayaan Hindu-Budha, kepercayaan Islam Wetu Telu, dan kepercayaan pra-Islam yang dinamakan dengan Sasak Boda. Di sini, berbagai agama dan aliran kepercayaan tersebut hidup berdampingan, rukun, dan harmonis.

Jika setiap daerah di nusantara berkembang mengikuti perubahan zaman, Desa Sade memilih untuk tetap mempertahankan pola kehidupan yang sudah diturunkan dari leluhur mereka. Hal tersebut terlihat dari pola kehidupan mereka yang masih homogen. Salah satu contohnya adalah kaum pria yang sebagian besar bekerja menjadi petani, sementara para perempuan bekerja membuat kain Sasak.

Selain sistem mata pencaharian masyarakat Desa Sade yang masih homogen, sisi tradisional desa ini terletak juga pada tata letak perumahan yang berjajar dan memiliki bangunan yang sama. Rumah di Desa Sade dibuat menggunakan kayu, sementara atapnya terbuat dari alang-alang atau rumput gajah.

Di setiap rumah, terdapat bangunan khusus yang digunakan untuk menyimpan hasil panen yang biasa mereka sebut dengan lumbung padi. Secara garis besar, anatomi rumah Suku Sasak di Desa Sade terdiri dari tiga bagian, yaitu dapur, kamar tidur, dan ruang tamu.

Menariknya, lantai di rumah tradisional Susu Sasak di Desa Sade menggunakan tanah liat tanpa diberi alas. Yang mencengangkan lagi, cara membersihkan lantai tersebut menggunakan kotoran kerbau. Konon, cara tersebut digunakan bukan tanpa sebab. Kotoran kerbau dianggap mampu mengusir nyamuk dan bisa membuat hangat isi ruangan di kala malam hari yang suhu udaranya cenderung dingin.

Sementara, kain Sasak yang setiap hari diproduksi oleh para perempuan dijajakan di depan rumah mereka. Kain tenun yang indah tersebut mereka jual dengan harga berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Harga ini tergantung pada variasi motif dan bahan baku kain yang digunakan. Selain kain, masyarakat Desa Sade juga memproduksi hasil kerajinan tangan lain seperti kalung, gelang, dan pernak-pernik. Barang-barang yang diproduksi masyarakat Desa Sade dinilai berkualitas baik sehingga digemari wisatawan.

Berkunjung ke Desa Sade sama dengan menilik sebagian kecil dari kekayaan kebudayaan nusantara yang beragam. Sisi tradisional desa ini mampu dikembangkan menjadi salah satu penggerak roda perekonomian masyarakat, selain juga menjadi pakem untuk terus mempertahankan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para leluhur agar terus hidup harmonis berdampingan dengan alam.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.