Cari dengan kata kunci

Puthuk Truno, Keindahan Abadi Curug Dua Sejoli

air_terjun_puthuk_truno_1290.jpg

Puthuk Truno, Keindahan Abadi Curug Dua Sejoli

Alkisah Joko Taruna ingin memperisteri puteri raja Madura yang bernama Sri Gading Lestari. Sayangnya, keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang ayah, lantaran Joko Taruno hanyalah keturunan selir, bukan dari Ratu Prabu Hayam Wuruk.

Pariwisata

Alkisah Joko Taruna ingin memperisteri puteri raja Madura yang bernama Sri Gading Lestari. Sayangnya, keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang ayah, lantaran Joko Taruno hanyalah keturunan selir, bukan dari Ratu Prabu Hayam Wuruk. Keinginan yang kuat untuk bersatu diantara keduanya, membuat sang Raja Madura terus berupaya untuk memisahkan sejoli itu dengan berbagai cara. Joko Taruno pun akhirnya diasingkan ke sebuah curug yang ada di pedalaman Jawa Timur. Dalam pengasingan tersebut, dirinya bersemedi sehingga dapat menemui cinta sejatinya kembali.

Cerita legenda di balik Curug Puthuk Truno itu dikisahkan oleh Darmono yang kesehariannya bertugas sebagai pengelola dan penjaga curug. Dalam paparannya, Darmono juga mengungkapkan, selain diambil dari kisah cinta Joko Taruno dan Sri Gading Lestari, nama Puthuk Taruno secara etimologi berasal dari dua kata bahasa Jawa, yaitu Puthuk yang berarti gunung kecil atau tempat yang lebih tinggi dari sekitarnya atau sepadan juga artinya dengan bukit. Sementara Truno diambil dari nama Joko Taruno.

Dari Alun-Alun Kota Pasuruan menuju Lokasi curug Puthuk Truno hanya menempuh jarak sekitar 40 km atau menghabiskan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan darat. Secara administrasi, curug yang berada di Lereng Gunung Arjuno ini masuk dalam kawasan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Mengingat lokasinya yang berada di lereng gunung, perjalanan menuju Curug Puthuk Truno menjadi sangat menyenangkan. Sejauh mata memandang, perjalanan akan ditemani dengan keindahan dan asrinya bebukitan yang hijau.

Perjalanan menuju lokasi curug kemudian dilanjutkan dengan trekking melewati jalan setapak yang sempit dan terjal. Perjalanan trekking menempuh jarak sekitar 400 meter dari gerbang masuk menghabiskan waktu sekitar 15 menit saja. Sepanjang perjalanan trekking, pengunjung akan merasakan hawa yang sejuk dan dingin khas pegunungan, sesekali terdengar suara burung endemik Jawa Timur dari ranting pohon. Ketika sayup-sayup terdengar suara gemuruh air, itu menandakan lokasi curug sudah dekat.

Curug Puthuk Truno mempunyai tinggi pancur mencapai sekitar 45 meter. Tebing yang melatari curug patah dengan sempurna, sehingga lengkungannya menjadi dekoratif yang menawan. Air curug jatuh ke sebuah kolam alami dengan kedalaman berkisar antara 1-3 meter, kolam alami ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Dari kolam alami ini, air mengalir kembali di antara bebatuan besar dan menjadi sungai yang airnya tak pernah kering walaupun di musim kemarau.

Saat akhir pekan tiba, Curug Puthuk Truno menjadi salah satu destinasi wisata alam yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Keindahan curug dengan tebingnya yang tinggi dan berada di kawasan pegunungan yang sejuk dan asri, menjadi alasan mengapa banyak orang memilih Puthuk Truno sebagai tujuan mereka berwisata. Puthuk Truno, air terjun dengan keindahan abadi, layaknya cinta Joko Taruno kepada kekasihnya, Sri Gading Lestari. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.