Cari dengan kata kunci

Museum Lukisan Sidik Jari, Jejak Karya Ngurah Gede Pemecutan

museum_lukisan_sidik_jari_1200.jpg

Museum Lukisan Sidik Jari, Jejak Karya Ngurah Gede Pemecutan

Seorang maestro selalu meninggalkan ciri tersendiri dalam karya yang dihasilkannya. Ciri ini sulit ditemukan di karya-karya dari seniman lain dan membuatnya memiliki nilai tersendiri di mata para penikmat seni. Satu diantara sekian banyak pelukis Bali yang memiliki ciri yang sulit ditemukan

Pariwisata
Tagar:

Seorang maestro selalu meninggalkan ciri tersendiri dalam karya yang dihasilkannya. Ciri ini sulit ditemukan di karya-karya dari seniman lain dan membuatnya memiliki nilai tersendiri di mata para penikmat seni. Satu diantara sekian banyak pelukis Bali yang memiliki ciri yang sulit ditemukan pada karya pelukis lainnya adalah I Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Ia menjadi pelukis pertama dan dapat dikatakan satu-satunya yang berhasil mengembangkan tehnik melukis dengan menggunakan sidik jari.

Tehnik melukis dengan sidik jari sebenarnya ditemukan I Ngurah Gede Pemecutan secara tidak sengaja. Sebuah kegagalan yang berhasil. I Ngurah Gede Pemecutan berkisah awalnya inspirasi itu muncul saat ia mengerjakan lukisan tari baris, tepatnya pada 9 April 1967. Lukisan yang tak kunjung selesai membuatnya kesal. Ia pun berusaha merusak lukisan itu dengan menempelkan jemari yang penuh cat ke permukaan kanvas. Setelah beberapa waktu ditinggalkan, I Ngurah Gede Pemecutan merenungi lukisan tersebut dan muncul inspirasi untuk membuat lukisan menggunakan jari telunjuk.

Sebenarnya, teknik melukis yang dikembangkan I Ngurah Gede Pemecutan termasuk dalam aliran pointilisme. Hanya saja, sebagian besar pelukis aliran ini masih menggunakan kuas sebagai alat lukis. Sementara, karya I Ngurah Gede Pemecutan dibuat menggunakan jari telunjuk dan hanya menggunakan warna-warna dasar. Gradasi warna pada lukisan dihasilkan dari perpaduan banyak titik, sehingga pengerjaannya pun membutuhkan ketelatenan dan ketelitian yang tinggi.

Lukisan-lukisan sidik jari karya I Ngurah Gede Pemecutan dapat dilihat di Museum Lukisan Sidik Jari yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk no. 175, Denpasar. Sebagian besar koleksi museum ini menonjolkan kekhasan karya sang pelukis, yaitu tersusun atas titik-titik yang membentuk kesatuan lukisan yang utuh. Selain koleksi lukisan sidik jari, di dua segmen ruang pameran pertama, pengunjung dapat melihat karya-karya awal I Ngurah Gede Pemecutan sebelum fase penemuan tehnik sidik jari.

Salah satu karya terbaik I Ngurah Gede Pemecutan adalah lukisan yang mengisahkan peristiwa Perang Puputan Badung. Pada lukisan tersebut, digambarkan suasana pertempuran antara pasukan Badung yang dipimpin Raja Pemecutan melawan pasukan Belanda. Pada akhir pertempuran, seluruh pasukan Pemecutan gugur dan yang selamat hanya dua orang bayi. Karya yang pengerjaannya memerlukan waktu hingga 18 bulan ini menceritakan kehidupan ayah sang pelukis, Anak Agung Gede Lanang Pemecutan. Dalam kejadian perang tersebut, ayah sang pelukis adalah salah satu dari dua bayi yang selamat dan menjadi pewaris trah bangsawan Pemecutan.

Selain melukis, I Ngurah Gede Pemecutan juga seorang penyair. Puisi-puisi karyanya banyak menggunakan bahasa yang sederhana, tapi memiliki makna yang dalam. Sebagian dari puisi-puisi ini diabadikan dalam bentuk prasasti batu bertulis yang dipajang di antara lukisan-lukisan sang maestro. Puisi-puisi tersebut juga dikumpulkan menjadi sebuah buku, dengan harapan dapat menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang.

I Ngurah Gede Pemecutan memiliki perhatian besar kepada generasi muda. Pembangunan Museum Lukisan Sidik Jari pun tak lepas dari visinya terhadap generasi muda. Sejak awal penggagasannya, museum ini tidak hanya berfungsi sebagai wahana untuk mengabadikan karya sang maestro. Museum ini juga merupakan wahana pendidikan.

Selain memajang karya I Ngurah Gede Pemecutan, museum ini pun secara rutin mengadakan kelas tari serta melukis bagi anak-anak dan remaja. Di usia senjanya, I Ngurah Gede Pemecutan berharap generasi muda Bali bangga dengan kesenian tradisional yang menjadi identitas dari tanah kelahiran mereka. [Ardee/IndonesiaKaya]

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • NULL

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.