Cari dengan kata kunci

Mengunjungi Hutan Suranadi yang Lebat

1377_thumb_Sisa_batang_pohon_yang_sengaja_dibiarkan_dan_dijadikan_dekorasi_di_kawasan_hutan_ini.jpg

Mengunjungi Hutan Suranadi yang Lebat

Hutan adalah napas di setiap daerah, begitu pula dengan Hutan Suranadi yang terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tepatnya di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Taman Wisata Alam Suranadi menjadi […]

Pariwisata

Hutan adalah napas di setiap daerah, begitu pula dengan Hutan Suranadi yang terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tepatnya di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Taman Wisata Alam Suranadi menjadi pusat udara bersih bagi warga Lombok.

Dengan luas mencapai 52 hektare, Taman Wisata Alam Suranadi merupakan hutan lindung dan taman wisata alam yang biasa dikunjungi oleh masyarakat Lombok. Dengan keadaan wilayah yang datar, landai, miring, dan sedikit bergelombang, Hutan Suranadi didominasi tanah mediteran cokelat. Iklim di hutan juga termasuk sangat subur, digolongkan ke dalam tipe D dengan curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun. Hutan Suranadi memiliki musim penghujan mulai dari Bulan September sampai Bulan Maret. Dengan kapasitas air mencapai 51 hari/tahun, kelembapan udara di Hutan Suranadi sekitar 78% dengan temperatur rata-rata 22,2 celcius (minimal) dan 36,9 celcius (maksimal).

“Suranadi” berasal dari “sura” yang berarti dewa dan “nadi” yang berarti sungai. Masyarakat setempat beranggapan “suranadi” memiliki arti khayangan, merujuk kamus bahasa Jawa.

Hutan Suranadi yang biasa digunakan untuk pendidikan dan penelitian ini mempunyai 21 mata air dan 3 sungai yang mengalir sepanjang tahun. Ketersediaan air yang selalu terjaga sepanjang tahun membuat hutan ini ditumbuhi berbagai jenis flora. Berkunjung ke hutan ini, Anda dapat melihat pepohonan yang berdiri kokoh menjulang tinggi, dan membuat Anda merasa kerdil.

Pohon seperti pulai ita, terep, kemiri, bayur, dan beringin menyebar luas di Hutan Suranadi. Bahkan, di hutan ini terdapat pohon beringin dan terep yang memiliki diameter 80-150 cm dan tinggi mencapai 40 m.

Tidak hanya pepohonan yang menjulang tinggi, kawasan ini juga memiliki koleksi tumbuhan obat yang sangat kaya. Dari hasil identifikasi para ilmuan, ditemukan sekitar 88 jenis tumbuhan obat yang merupakan penangkal penyakit seperti demam, batuk, malaria, cacingan, obat anti radang, penawar racun, dan luka bakar.

Selain beragam flora, aneka fauna pun menjadi penghuni Hutan Suranadi. Monyet ekor panjang, biawak, kadal, ular, serta beberapa jenis burung yang dilindungi seperti burung jantingan, cerucuk, isap madu, dan raja udang menjadi fauna yang masih bertahan di dalam Hutan Suranadi. Potensi seperti inilah yang dikembangkan oleh pihak pengelola dalam mengembangkan kekayaan alam Suranadi. Kawasan ini juga berpotensi sebagai tempat wisata dan kegiatan di luar ruang. Bersepeda, jungle trekking, hingga flying fox dapat dilakukan di Taman Wisata Alam Suranadi. [Riky/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • NULL

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.