Cari dengan kata kunci

Menelusuri Jejak Pangeran Jayakarta

makam_pangeran_jayakarta_1200.jpg

Menelusuri Jejak Pangeran Jayakarta

Salah satu versi mengatakan Pangeran Jayakarta telah mati di sumur tua di daerah Angke ketika dikejar oleh tentara VOC.

Pariwisata
Tagar:

Pangeran Jayakarta merupakan orang yang paling dicari tentara VOC. Putera dari Kesultanan Banten ini pernah mengusir tentara VOC dari Banten. Sebagai orang yang paling dicari, kematian Pangeran Jayakarta hingga kini masih simpang siur. Setidaknya, ada beberapa versi yang mengatakan letak makam pangeran yang bernama lain Achmad Jacatra itu.

Salah satu versi mengatakan Pangeran Jayakarta telah mati di sumur tua di daerah Angke ketika dikejar oleh tentara VOC. Pada saat itu, ditemukan jubah Pangeran Jayakarta di liang sumur. Sementara, versi yang lain mengatakan, setelah dinyatakan mati di sumur tua, wujud Pangeran Jayakarta ditemukan kembali di daerah Mangga Dua. Tetapi, banyak ahli sejarah yang meragukan kebenaran cerita-cerita tersebut. Berbagai cerita yang tersebar di masyarakat diyakini sudah bercampur dengan cerita hikayat yang syarat akan hal-hal fantasi.

Versi terakhir menjelaskan, ketika dikejar oleh tentara VOC, Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya melipir ke selatan. Rombongan ini masuk ke sebuah tepian kali yang membelah hutan jati. Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya kemudian membuka hutan dan di tempat tersebut dibangun sebuah masjid. Sebelum bernama As Salafiah, masjid tersebut bernama Masjid Pangeran Jayakarta, yang sengaja dibangun oleh pasukan Pangeran Jayakarta untuk menghimpun kekuatan kembali. Banyak yang mempercayai di tempat inilah Pangeran Jayakarta dimakamkan.

Makam Pangeran Jayakarta bersebelahan dengan Masjid As Salafiah, tepatnya di Jalan Jatinegara Kaum. Memasuki kawasan masjid, pengunjung akan melihat sebuah pendopo. Di pendopo yang berukuran 10×10 meter ini, terdapat lima makam. Salah satu makam tersebut merupakan makam Pangeran Jayakarta. Makam ini dapat dikenali dari tulisan Achmad Jacetra pada batu nisannya. Sementara di sebelahnya, terdapat makam Pangeran Lahut yang merupakan putera dari Pangeran Achmad Jacetra.

Untuk mengenang perjuangan Pangeran Jayakarta, pada ulang tahun Kota Jakarta ke-441, Gubernur Ali Sadikin meresmikan berdirinya Makam Pangeran Jayakarta. Kemudian, pada 1999, berdasarkan Perda Khusus Ibukota Jakarta No. 9, Makam Pangeran Jayakarta diangkat statusnya menjadi benda cagar budaya. Sebagai benda cagar budaya, segala bentuk perubahan harus meminta izin terlebih dahulu kepada pemerintah daerah. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga keaslian makam.

Setiap hari selalu ada peziarah yang datang ke Makam Pangeran Jayakarta. Biasanya para mengunjung akan mengaji sambil berdoa mengharap berkah. “Peziarah yang datang tidak melulu dari Jakarta, terkadang ada peziarah yang sengaja datang dari Banten, bahkan dari Surabaya. Biasanya menjelang bulan puasa, peziarah makin ramai,” ungkap seorang penjaga makam.

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Janitra Panji Satria

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.