Cari dengan kata kunci

Mangadu Pedang demi Menjaga Keharmonisan

tari_pepatay_1200.jpg

Mangadu Pedang demi Menjaga Keharmonisan

Seorang pemuda duduk setengah bersila mengenakan pakaian adat Dayak lengkap dengan mahkota, perisai, dan mandau di pinggangnya. Seorang pemuda lain lalu keluar juga membawa perisai dan mandau. Sementara, suara dengungan yang bersumber dari alat musik sape dibunyikan untuk mengiringi pertarungan.

Kesenian

Seorang pemuda duduk setengah bersila mengenakan pakaian adat Dayak lengkap dengan mahkota, perisai, dan mandau di pinggangnya. Seorang pemuda lain lalu keluar juga membawa perisai dan mandau. Sementara, suara dengungan yang bersumber dari alat musik sape dibunyikan untuk mengiringi pertarungan. Mereka sedang membawakan salah satu tari asal Dayak Kenyah yang bernama tari pepatay.

Tari pepatay merupakan tari yang menceritakan ksatria Dayak yang pandai berperang. Tari ini biasanya dibawakan oleh dua orang lelaki muda yang mengenakan pakain adat Dayak Kenyah. Pakaian adat laki-laki Dayak Kenyah dinamakan dengan sapei sapaq. Sapei sapaq umumnya berwarna dasar hitam, dengan bagian atas berbentuk rompi.

Rompi tersebut dihiasi manik-manik yang berwarna cerah dan kontras. Menurut tetua adat Dayak Kenyah, warna manik-manik yang kontras pada sapey sapaq merupakan simbol bahwa orang Dayak Kenyah mencintai alam layaknya mencintai keharmonisan dalam perbedaan.

Bagian bawah sapei sapaq berbentuk cawat. Bagian ini disebut abet kaboq. Celana cawat ini juga tak luput dari hiasan manik-manik yang berwarna kontras.

Gerakan penari pepatay didominasi gerakan yang gesit, lincah, dan cenderung akrobatik. Sesekali, ketika menghela gerakan tari, para penari biasanya melontarkan teriakan-teriakan untuk memprovokasi lawan. Sambil berteriak, mereka tetap dalam posisi siap (kuda-kuda). Pada tahap ini, biasanya gerakan penari akan berputar perlahan mengikuti gerak lawannya.

Dalam pertunjukan, para penari pepatay menggunakan mandau asli. Karenanya, aksi saling serang yang dilakukan kedua penari menjadi semakin tegang. Pertunjukan yang disaksikan pun menjadi lebih asyik.

Tari adu pedang dua ksatria ini merupakan salah satu sisi eksotis Borneo. Tari ini wajib dipentaskan ketika menyambut tamu kehormatan atau pada kegiatan budaya lainnya. Tari pepatay merepresentasikan masyarakat Dayak Kenyah yang gagah berani tapi tetap menjunjung keharmonisan. Nilai-nilai warisan budaya adiluhung yang patut dijaga dan dilestarikan sebagai kekayaan kebudayaan bangsa yang beragam. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • NULL

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.