Cari dengan kata kunci

Lima Situs yang Disakralkan di Pertapaan Mandalasari

Pertapaan_Mendalasari_1200.jpg

Lima Situs yang Disakralkan di Pertapaan Mandalasari

Di Dataran Tinggi Dieng, ada beberapa tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Salah satunya adalah ini, Pertapaan Mandalasari. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, di kawasan pertapaan ini terdapat lima tempat yang biasa dijadikan tujuan ziarah.

Pariwisata

Di Dataran Tinggi Dieng, ada beberapa tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Salah satunya adalah ini, Pertapaan Mandalasari. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, di kawasan pertapaan ini terdapat lima tempat yang biasa dijadikan tujuan ziarah.

Tempat yang pertama adalah Batu Tulis. Dari samping, batu besar ini akan terlihat menyerupai perwujudan Semar – salah satu tokoh Punakawan dalam cerita wayang. Menurut sejarah yang beredar di masyarakat sekitar, Batu Tulis ini merupakan tempat Eyang Purba Wasesa (leluhur masyarakat Dieng) mendapatkan pencerahan. Batu Tulis sering menjadi tempat ziarah orangtua atau pelajar yang mengalami kesulitan dalam studi.

Tempat berikutnya adalah Gua Semar. Gua ini merupakan gua yang paling sering dikunjungi para peziarah. Banyak orang yang datang untuk bersemedi di gua ini.

Gua ini dinamakan gua semar karena orang yang bermeditasi di sini akan mendapatkan wahyu kasampurnaning jati (ilmu yang dapat membedakan yang baik dan yang buruk). Menurut legenda, wahyu ini diturunkan di Mandalasari (tempat tertinggi di khayangan). Yang pertama mendapatkan wahyu ini adalah Dewa Ismaya yang kemudian mengubah wujud menjadi sosok Semar.

Yang berikutnya adalah Gua Pengantin. Dari empat gua yang ada di kawasan ini, inilah gua yang termuda – dari segi nama. Nama “pengantin” yang diberikan pada gua ini merupakan usul dari pihak Departemen Pariwisata dan Budaya Wonosobo pada tahun 2005. Nama ini diberikan karena banyaknya laporan pasangan yang datang ke gua ini lalu melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.

Gua Sumur merupakan tujuan berikutnya. Di dalam gua ini, terdapat sebuah sumber mata air yang disebut Sendang Kamulyaan. Sendang ini mengeluarkan tirta perwitasari/tirta amerta/tirta nimala. Sumber air ini dianggap suci oleh pemeluk Agama Hindu. Sebelum diadakannya upacara Melasti atau Nyepi, umat Hindu dari Bali akan datang ke sumber mata air ini dan mengambil air suci untuk keperluan upacara.

Gua yang terakhir adalah Gua Jaran. Dalam bahasa Jawa, “jaran” berarti kuda. Gua ini dipercaya dijaga oleh seorang resi (orang sakti) yang bernama Kendali Seto (yang dapat diartikan sebagai penunggang kuda putih).

Ada sebuah legenda mengenai gua ini. Pada suatu ketika, ada seekor kuda betina berwarna putih yang masuk ke dalam gua ini. Ketika keluar dari gua ini pada keesokan harinya, kuda putih tersebut sudah dalam keadaan mengandung. Gua ini sering menjadi tempat tujuan ziarah pasangan yang kesulitan memiliki keturunan.

Kecuali Gua Pengantin, gua-gua yang ada di kawasan ini dibatasi dengan gerbang yang dikunci dengan sebuah gembok. Untuk dapat masuk ke dalam gua, harus meminta izin kepada pemangku adat setempat.

Berada di dalam Kawasan Wisata Alam Telaga Warna, tiket masuk ke kawasan ini seharga Rp6.000. Kawasan wisata ini buka setiap hari dari jam 06.00 WIB sampai dengan jam 18.00 WIB. [Agung/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.