Cari dengan kata kunci

Keseimbangan Nilai Praktis dan Estetis pada Aksesori Dayak

aksesoris_dayak_1200.jpg

Keseimbangan Nilai Praktis dan Estetis pada Aksesori Dayak

Di tengah gempuran dunia mode dari luar, aksesori tradisional nusantara masih memiliki peminat setia. Anggapan tersebut bukan hisapan jempol belaka. Sebagai bukti, kini banyak bermunculan desainer yang mengimplementasikan corak dan aksesori tradisional dalam karya-karya mereka.

Kesenian

Di tengah gempuran dunia mode dari luar, aksesori tradisional nusantara masih memiliki peminat setia. Anggapan tersebut bukan hisapan jempol belaka. Sebagai bukti, kini banyak bermunculan desainer yang mengimplementasikan corak dan aksesori tradisional dalam karya-karya mereka. Kesadaran akan pentingnya mempertahankan nilai-nilai tradisional dari para pegiat dunia mode disambut meriah oleh masyarakat Indonesia, sebagai perlambang bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Keeksotisan dan keindahan aksesori tradisional nusantara tidak perlu diragukan lagi. Aksesori Dayak misalnya. Selain memiliki daya tarik tersendiri lantaran bentuk dan warnanya yang indah, aksesori Dayak juga kental dengan unsur-unsur filosofis yang melingkupinya.

Secara umum, aksesori Dayak didominasi warna-warna yang kontras. Berbagai warna dari manik-manik membuat pola yang mencirikan Suku Dayak. Konon, warna kontras tersebut merupakan perlambang bahwa masyarakat Suku Dayak hidup dalam keharmonisan.

Suku Dayak Kenyah yang mendiami wilayah Kalimantan Timur menjadikan manik-manik sebagai penghias berbagai aksesori. Aksesori Dayak yang dihias dengan manik-manik berupa penutup kepala, tas gendong, kalung, hingga pakaian adat Dayak yang disebut dengan sapek sapay. Manik-manik yang menghiasi aksesori Suku Dayak mengikuti pola atau bentuk yang dianggap suci dan membawa berkah, seperti pola burung tingang dan bentuk kamang yang merupakan simbol kehadiran roh leluhur.

Khusus pada aksesori penutup kepala dan tas gendong, bahan utama yang digunakan adalah rotan. Pembuatan tas gendong dilakukan dengan cermat sehingga tas yang dihasilkan memenuhi fungsi praktisnya sebagai wadah yang kuat untuk membawa hasil kebun atau untuk menggendong bayi. Setelah rotan berbentuk penutup kepala atau tas gendong, barulah dihias dengan manik-manik.

Yang menarik dari aksesori Dayak adalah adanya penambahan hiasan berupa taring landak atau kuku beruang madu. Hiasan ini disematkan bukan tanpa alasan. Taring landak dan kuku beruang madu diyakini sebagai simbol kekuatan bagi orang yang mengenakannya.

Dilihat dari segi harga, aksesori Suku Dayak juga mampu bersaing atau bahkan lebih murah dibandingkan produk luar negeri. Berbagai aksesori Suku Dayak dijual dengan harga antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah, disesuaikan dengan besar kecil ukuran dan kerumitan motif yang dibuat. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • NULL

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.