“..Sio mama eee….beta rindu mau pulang’e…
..Sio mama eee…mama su lia kurus lawang’e….”
Sore menjelang malam itu terdengar jelas lirik lagu Maluku Sio Mama di atas terucap indah dari lantunan suara seorang penyanyi. Ia menyanyi dengan merdu dan membawa suasana santai sore itu semakin terasa. Angin yang berhembus begitu menyejukkan udara Ambon yang hangat pun ikut mengiringi waktu bersantai di kafe itu. Saya berada di sebuah kafe terkenal di Kota Ambon yang bernama Kafe Sibu-Sibu.
Sibu-sibu dalam bahasa setempat berarti sepoi-sepoi atau berhembus sejuk. Kurang lebih perasaan itulah yang saya rasakan sambil menikmati suasana sore Kota Ambon di kafe tersebut. Kafe ini berada di Jalan Said Perintah No. 47A, Kota Ambon, Maluku. Tidak sulit untuk menemukan lokasi kafe ini karena letaknya yang berada di salah satu jalan utama jantung Kota Ambon. Kafe ini sudah berdiri sejak 2006 dan dimiliki oleh seorang ibu bernama Jane Tahitu.
Sibu-sibu dalam bahasa setempat berarti sepoi-sepoi atau berhembus sejuk.
Kafe ini merupakan salah satu tempat yang “wajib” dikunjungi ketika berkunjung ke Ambon. Nama Sibu-Sibu tidak hanya terkenal di telinga warga Ambon saja, namun sudah tersebar hingga telinga wisatawan mancanegara seperti dari Belanda. Saya penasaran dengan faktor yang membuat kafe ini begitu terkenal hingga ada istilah di kalangan wisatawan “Belum ke Maluku, kalau belum mampir ke Sibu-Sibu”.
Berkunjung ke kafe ini memang paling tepat adalah sore hari menjelang malam ketika kita sepulang kerja dan hanya waktu santai yang tersisa untuk menghabiskan hari. Segala penat seharian dapat dilupakan ketika pertama masuk ke pintu Kafe Sibu-Sibu. Kafe ini bukanlah kafe tertutup dengan pendingin udara seperti kebanyakan kafe di ibu kota. Sibu-Sibu sangatlah sederhana, bahkan saya dapat menikmati udara Kota Ambon secara langsung. Meski begitu, saya disambut secara istimewa oleh puluhan foto-foto dan poster musisi-musisi terkenal baik dari dalam negeri maupun mancanegara yang memiliki darah Ambon.
Glenn Fredly, Broery Marantika, Grup Vengaboys, bahkan Daniel Sahuleka pun terpampang dengan cantik di dinding Kafe Sibu-Sibu.
Sebut saja foto Glenn Fredly, Broery Marantika, Grup Vengaboys, bahkan Daniel Sahuleka pun terpampang dengan cantik di dinding Kafe Sibu-Sibu. Interior kafe ini pun cukup sederhana, namun begitu senada dengan foto-foto dan warna dinding yang ditampilkan. Hal ini membuat seolah saya sedang berada di sebuah studio rekaman para musisi Ambon.
Tidak hanya dari segi penampilan, menu yang ditawarkan oleh Kafe Sibu-Sibu pun membuat tempat ini terasa istimewa. Satu menu minuman yang menjadi primadona di kafe ini adalah kopi rarobang, yaitu kopi Arabica yang dicampur berbagai rempah khas Maluku seperti pala, jahe, dan cengkih, yang kemudian diseduh dan disajikan dengan taburan kacang kenari. Rasanya yang nikmat dan hangat akan membuat tubuh lelah kembali menjadi pulih setelah meminumnya. Tidak hanya itu, sejumlah makanan kecil khas Ambon seperti gogos (sejenis lemper ikan), pulut punti (ketan), maupun kasbi (singkong) tersedia sebagai teman saya melepas lelah di kafe unik ini.
Para pengunjung seakan dibawa berkelana dari satu zaman ke zaman lainnya lewat tiap lagu yang dibawakan oleh musisi lokal yang bergiliran main setiap harinya.
Hal berikutnya yang menjadi faktor terkenalnya kafe ini adalah suasana yang dibangun lewat lantunan lagu-lagu Ambon sepanjang masa. Para pengunjung seakan dibawa berkelana dari satu zaman ke zaman lainnya lewat tiap lagu yang dibawakan oleh musisi lokal yang bergiliran main setiap harinya. Suasana Ambon sangat terasa melekat di kafe ini dan akan membuat siapa pun yang bersantai di tempat ini menjadi enggan untuk cepat beranjak.
Belum lagi pelayan yang ramah dan memberikan kenyamanan bagi pelanggan yang memesan. Bagi pengunjung seperti saya yang belum banyak tahu tentang menu kafe ini, para pelayan akan menjelaskan setiap menu hingga saya mengerti dan siap untuk memesan. Harga yang ditawarkan pun tidak mahal, dengan uang 5000-30.000 rupiah saja saya dapat menikmati sore hari santai saya dengan perut yang kenyang.
Lebih dari sebuah kafe, saya melihat Sibu-Sibu sebagai satu kecintaan mendalam pada kehidupan dan gaya hidup Ambon yang ramah dan penuh kegembiraan. Setiap unsur yang ada di kafe ini seakan terkait satu dengan yang lain sehingga membangun suasanya nyaman, santai, dan penuh kekeluargaan. Hal ini jelas membuat Sibu-Sibu menjadi satu kafe favorit bagi warga Ambon maupun wisatawan dalam dan luar negeri yang berkunjung. Hebatnya, tidak hanya kesan manis yang akan dibawa setelah bersantai di kafe Sibu-Sibu, namun juga keinginan untuk kembali lagi mengunjungi tempat ini di kemudian hari. Malam saya pun terlewati dengan sempurna dengan lanjutan lagu Sio Mama.
“….Sio Tete Manise, jaga beta pung mama eeee…..”








