Kue Lapan Jam & Maksuba, Pesona Dua Manis dari Sriwijaya - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Kue Lapan Jam 2-resized-to-2000x1127

Kue Lapan Jam & Maksuba, Pesona Dua Manis dari Sriwijaya

Kudapan kaum bangsawan di bumi Sriwijaya.

Kuliner

Palembang, kota yang memegang teguh jejak kejayaan Sriwijaya, bukan hanya terkenal dengan Jembatan Ampera dan juga pempek. Lebih dari itu, kota ini menyimpan harta karun kuliner yang kaya raya, terutama dalam sajian manisnya. Di antara permata-permata tersebut, dua nama bersinar terang: Kue 8 Jam (lapan jam) dan Maksuba.

Keduanya bukan sekadar sajian biasa; mereka adalah narasi rasa, warisan budaya, dan simbol kemewahan yang diwariskan dari generasi ke generasi, bahkan dipercaya telah menghiasi meja-meja raja dan bangsawan. Mencicipi Kue Lapan Jam dan Maksuba berarti merasakan keunikan dan pesona dari dua kue basah yang memakan waktu dan kesabaran dalam proses pengolahannya, namun menjanjikan pengalaman rasa yang tak terlupakan.

Sejauh ini belum ada bukti ilmiah bagaimana kue yang sering menjadi simbol kemakmuran lahir di Nusantara. Namun menurut pengakuan warga setempat dan berbagai sumber, kuat dugaan bahwa Kue Lapan Jam adalah makanan kaum bangsawan.

Lantaran bahan-bahan dasar seperti mentega, telur, susu, vanili adalah bahan-bahan makanan yang mudah dijangkau untuk masyarakat kelas atas. Terlebih dibutuhkan paling tidak 20 butir telur dalam membuatnya. Wajar saja jika masyarakat menengah ke bawah lebih memilih menjadikan telur sebagai lauk ketimbang kue.

Terlebih dibutuhkan paling tidak 20 butir telur dalam membuatnya.

Rasa legit gurih dan lumer di dalam mulut dari Kue Lapan Jam adalah buah dari kesabaran ketika membuatnya. Filosofi yang tersimpan di balik manisnya kerja keras proses pembuatan kue ini mengacu pada cara hidup manusia.

Dalam 24 jam sehari, idealnya mengalokasikan masing-masing 8 jam untuk tiga pilar utama kehidupan: 8 jam untuk bekerja dan berkarya, 8 jam untuk beristirahat dan memulihkan diri, serta 8 jam untuk beribadah dan mendekatkan diri pada Tuhan. Sebuah pengingat manis yang sarat makna dari sepotong kue.

Jika terburu-buru dan mengukusnya kurang dari delapan jam yang krusial itu, kue ini akan kehilangan esensinya – cita rasanya tak maksimal, teksturnya lembek, dan pori-porinya tak akan terbentuk sempurna. Sebuah pelajaran manis tentang pentingnya menjalani setiap tahapan proses dengan penuh kesadaran. Banyak tafsiran dari masyarakat setempat juga bahwa angka 8 merujuk pada jumlah bahu yang akan mengusung keranda kita saat tiba waktunya untuk kembali ke Sang Pencipta.

Selain Kue Lapan Jam, sajian yang umumnya ditemukan saat Lebaran adalah Maksuba. Sama seperti Kue Lapan Jam, Maksuba adalah kudapan khas masyarakat elit Kesultanan Palembang. Untuk orang Palembang kue ini merupakan kue kudapan dan karena pada zaman dahulu belum adanya lemari es, maka dibuatlah makanan yang dapat tahan lama.

Kue Maksuba, sebuah mahakarya kuliner dari Palembang, tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga sarat akan makna filosofis dan tradisi. Kue ini adalah lambang penghormatan yang mendalam. Mengingat proses pembuatannya yang rumit dan bahan-bahan berkualitas yang digunakan, menyajikan Kue Maksuba kepada tamu adalah sebuah bentuk kehormatan tertinggi, seolah berkata, ‘Anda adalah tamu istimewa bagi kami.’

Menyajikan Kue Maksuba kepada tamu adalah sebuah bentuk kehormatan tertinggi.

Lebih dari sekadar hidangan, Maksuba juga menjadi penanda penting dalam kehidupan seorang wanita Palembang. Pada masa lalu, kue ini kerap dijadikan tolak ukur kesiapan seorang wanita untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Sejarahnya bahkan mencatat, di era kesultanan, Maksuba selalu hadir di meja makan sebagai sajian istimewa saat berbuka puasa di bulan Ramadan atau menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi silaturahmi yang dikenal sebagai ‘Sanjo’. Tak heran, hingga kini, kue ini adalah salah satu hidangan wajib yang selalu tersedia di setiap perayaan Lebaran.

Tradisi bahkan membawa Maksuba lebih jauh ke dalam ikatan pernikahan. Secara turun-temurun, kue ini menjadi syarat penting dalam proses lamaran: calon mertua akan mengirimkan bahan-bahan mentah, dan sang wanita diharapkan meracik serta mengirimkan Maksuba sebagai hantaran balasan yang penuh makna. Ini bukan hanya unjuk kebolehan, tetapi juga simbolisasi kesiapan dan dedikasi.

Secara turun-temurun, kue ini menjadi syarat penting dalam proses lamaran.

Ini tidak lepas dari bagaimana cara membuat kue ini yang jelas membutuhkan kesabaran. Campuran telur, gula, dan vanila untuk memberikan rasa manis yang khas. Campuran susu kental manis dan mentega leleh yang berfungsi sebagai pelapis antar lapisan.

Adonan pertama dituangkan sedikit demi sedikit ke dalam loyang, lalu dipanggang dengan api atas hingga berubah warna kecoklatan. Setelah itu, lapisan kedua ditambahkan, dan proses ini terus diulang hingga kue mencapai ketebalan yang diinginkan. Tak heran, pembuatannya bisa memakan waktu berjam-jam, tetapi hasilnya sangat memuaskan.

Singkatnya, Kue Maksuba adalah simbol universal penghargaan dan kehormatan. Ia tak pernah absen dari kemeriahan pernikahan adat Palembang, menjadi sajian wajib di hari raya atau acara syukuran, dan kini, kelezatannya bahkan bisa dinikmati sebagai hidangan istimewa sehari-hari. Sebuah kue yang benar-benar merefleksikan kekayaan budaya dan kehangatan silaturahmi.

Kue Maksuba adalah simbol universal penghargaan dan kehormatan.

Jika melancong ke Palembang, rasanya tak lengkap jika tidak membawa Kue Lapan Jam dan Maksuba sebagai oleh-oleh. Ditemani kopi atau teh, rasanya santai sambil menikmati duet kue dari tanah Sriwijaya menjadi lengkap.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Lestari, N. S., & Winata, G. S. (2021). KUE MAKSUBA WARISAN MASA LAMPAU YANG BERPOTENSI SEBAGAI DAYA TARIK WISATAWAN. Pringgitan, 2(1), 11-23.