Bayan Api, Tari Persatuan di Tengah Keberagaman Etnis Riau - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Tari_Bayan_Api_1200.jpg

Bayan Api, Tari Persatuan di Tengah Keberagaman Etnis Riau

Di balik topeng naga dan irama zapin, tersimpan pesan persatuan di tengah ragam budaya Riau.

Kesenian

Tari bayan api merupakan garapan seni kreasi Riau yang lahir untuk menceritakan tentang Bagan Siapi-Api, sebuah wilayah yang memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara. Terletak di muara Sungai Rokan, tepatnya di pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir, kawasan ini sejak lama dikenal sebagai pusat aktivitas perdagangan internasional karena kedekatannya dengan Selat Malaka.

Sebagai persimpangan berbagai budaya, Bagan Siapi-Api menjadi rumah bagi beragam etnis yang hidup berdampingan. Keberagaman ini tetap terjaga berkat sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, sebuah nilai yang turut diabadikan dalam gerak dan makna tari bayan api.

Tarian kreasi ini mengadopsi beberapa unsur kebudayaan, yakni budaya Cina, Jawa, dan Melayu.

Keberagaman masyarakat Bagan Siapi-Api menginspirasi lahirnya sebuah tari kreasi yang bernama tari bayan api. Tarian kreasi yang mengadopsi gerakan dalam tari zapin Rokan Hilir ini menggabungkan beberapa unsur kebudayaan yang ada di daerah tersebut, yakni budaya Cina, Jawa, dan Melayu. Pengaruh tiga kebudayaan tersebut terlihat pada unsur-unsur estetika yang membangun tari kreasi tersebut, seperti pada musik dan busana yang dikenakan, serta pada penggunaan bayan api yang disimbolkan dengan topeng naga.

Naga dalam kebudayaan Cina mempunyai tempat yang khusus, selain dianggap sebagai dewa, naga juga diyakini sebagai maharaja yang mampu mendatangkan kemujuran. Penggunaan simbol naga tersebut merupakan pesan yang hendak disampaikan dalam garapan kreasi ini, bahwa keberagaman etnisitas di Bagan Siapi-Api perlu dipertahankan sebagai tradisi dan ciri khas nasional sebagai negara Pancasila, sehingga perdamaian dapat tercipta dan kesejahteraan dapat diwujudkan.

Penggunaan simbol naga hendak menyampaikan bahwa keberagaman etnisitas di Bagan Siapi-Api perlu dipertahankan.

Secara umum, tari kreasi bayan api memang digarap untuk dipentaskan oleh banyak penari, baik oleh perempuan maupun laki-laki atau penggabugan antara keduanya. Para penari umumnya mengenakan pakaian adat melayu yang sudah mengalami modifikasi di beberapa bagiannya. Modifikasi tersebut memadukan beberapa unsur lokal Jawa dan Cina. Unsur Jawa terlihat pada penggunaan selendang yang diikatkan pada bagian pinggang. Selendang merupakan ciri khas umum pada tampilan penari Jawa. Selendang tersebut kemudian dipadukan dengan balutan kain songket Riau yang bercorak emas.

Sementara tata rias yang digunakan dalam garapan seni kreasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga mempertebal raut muka. Laki-laki mengenakan kumis yang tebal, sementara pada perempuan bagian alis dibuat tebal dan berwarna sehingga tampak menawan. Dari garapan musik, walau sudah dipengaruhi alat musik modern, ciri musik komunal Melayu Riau masih terasa kental didengar.

Tari bayan api juga menampilkan bagaimana indahnya kebersamaan di antara banyaknya perbedaan.

Perpaduan berbagai unsur etnisitas pada tari bayan api tidak hanya menampilkan keindahan suatu pertunjukan seni. Lebih dari itu, tari bayan api juga menampilkan bagaimana indahnya kebersamaan di antara banyaknya perbedaan. Suatu ciri khas komunal masyarakat Nusantara yang sejak lama terbiasa hidup dalam perbedaan.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya