Rimo-Rimo & Cengkeh Afo, Mahakarya Gastronomi Ternate - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Rimo-Rimo

Rimo-Rimo & Cengkeh Afo, Mahakarya Gastronomi Ternate

Sajian khas Ternate yang menghadirkan rempah cengkeh tertua di dunia.

Kuliner

Sudah sekian ratus tahun cengkeh dan pala menjadi tumpuan hidup masyarakat Maluku. Tak terkecuali Pulau Ternate, Maluku Utara. Jika Pulau Banda punya pala terbaik di dunia, Ternate punya Cengkeh Afo sebagai jenis cengkeh terbaik dan tertua di dunia. Ya, tertua di dunia!

Menurut informasi yang terpampang di kawasan Hutan Rempah Cengkeh Afo, pohon cengkeh pertama, yang diperkirakan telah menopang langit Ternate selama 416 tahun, akhirnya mati pada awal tahun 2000-an. Kemudian, pada Juli 2019, pohon kedua yang usianya mencapai sekitar 250 tahun, juga takluk pada usia.

Namun, di antara jejak-jejak masa lalu yang kini terbaring, masih ada satu penjaga yang tegak berdiri. Pohon cengkeh tertua ketiga, dengan perkiraan usia 200 tahun, tetap gagah menantang zaman, tak jauh dari hiruk-pikuk jalan utama, seolah menjadi saksi bisu keagungan rempah Ternate yang tak lekang waktu.

Siapa yang pertama kali menyematkan nama ‘afo‘ pada pohon cengkih legendaris ini, atau sejak kapan sebutan itu mengakar kuat di benak masyarakat Ternate, masih menjadi misteri. Dalam bahasa Ternate kata ‘afo’ berarti tua. Namun, satu hal yang tak terbantahkan: Cengkeh Afo adalah jiwa Ternate, diyakini sebagai varietas cengkeh paling murni dan otentik dari tanah rempah ini.

Cengkeh Afo adalah jiwa Ternate, diyakini sebagai varietas cengkeh paling murni dan otentik dari tanah rempah ini.

Keistimewaannya bahkan diakui secara resmi oleh negara. Mengutip laman resmi Jalur Rempah Nusantara, pada 2010, melalui Keputusan Menteri Pertanian, pemerintah Indonesia menyematkan nama ‘Afo’ sebagai penanda varietas tanaman cengkih unggul dari Ternate, meneguhkan posisinya sebagai mahkota rempah Nusantara yang tak tergantikan.

Lebih dari sekadar varietas unggul dan legendaris asal Nusantara, Cengkeh Afo kini menjelma menjadi nama daerah sekaligus juga komunitas. Kampung wisata seluas kurang lebih 10 hektar ini dikelola oleh Komunitas Cengkeh Afo & Gamalama Spices Community (CAGS). Mengusung ekowisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, ribuan wisatawan baik domestik dan mancanegara mengalami tamasya rasa sekaligus budaya yang mempesona.

Kabar baiknya lagi, siapa saja kini masih bisa mencicipi warisan rasa dari pohon cengkeh tertua lewat sajian Rimo-Rimo. Sederhananya, tradisi Rimo-Rimo adalah proses memasak dengan menggunakan bambu dan di bakar. Warga setempat memasak rimo-rimo ayam rempah, ikan kerapu kuah kuning kenari, dan tidak ketinggalan sayur lilin (sayur berbahan telur tebu atau terubuk) yang dicampur ikan tuna serta singkong ngo (dihaluskan dan dimasak di dalam bambu).

Kabar baiknya lagi, siapa saja kini masih bisa mencicipi warisan rasa dari pohon cengkih tertua lewat sajian Rimo-Rimo.

Ikan kakap dan kerapu adalah dua jenis ikan yang umum dimasak dengan cara rimo-rimo. Bumbu-bumbu yang digunakan antara lain kunyit, jahe, bawang merah, dan bawang putih, daun bawang, daun pandan, daun lemon, patikala (kecombrang) dan kenari. Akan lebih sedap jika menggunakan cengkih afo. Namun ketersediaan cengkih bergantung pada musim yang sedang berlangsung. Jika sedang musim hujan maka akan sulit untuk mendapatkannya.

Bagi yang pernah merasakan rimo-rimo, pasti setuju jika kuliner yang satu ini adalah surga rasa di Ternate. Rasa gurih, legit, sedikit asam dan pedas dari rempah hasil dari tanam langsung di sekitar kawasan cengkeh afo membuat siapa saja ingin kembali. Apalagi jika menikmatinya di sekitar daerah Hutan Rempah Cengkeh Afo. Ditemani saut-menyaut burung dan hawa sejuk yang menyelimuti tubuh, siapa yang tak ingin menikmatinya?

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Membaca Jejak Kolonialisme lewat Cengkeh Afo. Jelajah Kompas, 2 Agustus 2017. Diakses dari https://jelajah.kompas.id/jalur-rempah/baca/membaca-jejak-kolonialisme-lewat-cengkeh-afo/ diakses pada 11 Februari 2026