Cari dengan kata kunci

Puncak Perayaan Hari Lahir ke 270 Kota Solo Gelar Tari Kolosal

Puncak_Perayaan_Hari_Lahir_ke_270_Kota_Solo_Gelar_Tari_Kolosal.jpg

Puncak Perayaan Hari Lahir ke 270 Kota Solo Gelar Tari Kolosal

Sebelum pagelaran tari kolosal dimulai, Walikota Solo, FX Rudi Hadyatmo memberikan sambutan dihadapan ratusan warga Kota Solo yang berdiri di depan panggung yang berlokasi tepat di Kantor Pos, Jalan Jendral Sudirman, Solo.

Kesenian

Malam itu kawasan Jalan Jendral Sudirman dipadati ratusan masyarakat Solo yang ingin menyaksikan pagelaran akbar hari lahir Kota Solo, Solo Karnaval. Pada puncak perayaan yang ke-270 ini menampilkan tarian kolosal dengan mengambil lakon 'Adeging Kutha Sala'

Gagasan konsep pertunjukan Adeging Kutha Sala sendiri menitik beratkan pada sejarah terbentuknya Kota Surakarta (perpindahan Karaton Kartasura ke Surakarta) yang menampilkan 270 penari profesional dan melibatkan 560 penari.

Sebelum pagelaran tari kolosal dimulai, Walikota Solo, FX Rudi Hadyatmo memberikan sambutan dihadapan ratusan warga Kota Solo yang berdiri di depan panggung yang berlokasi tepat di Kantor Pos, Jalan Jendral Sudirman, Solo. Dalam kesempatan itu, Walikota Solo menyampaikan bahwa acara ini dipersembahkan untuk menghibur masyarakat Solo dan juga wisatawan yang berkunjung ke Solo.

Adegan pembuka diawali dengan suasana yang kacau balau pasca perang perebutan Kraton Kartasura oleh pasukan Belanda melawan prajurit Cina dan Jawa. Perlahan-lahan rakyat mulai bangkit untuk menata kehidupannya kembali. Penggambaran aktivitas rakyat ini digambarkan dalam koreografi tarian rakyat dan tarian jalanan.

Ada satu kejadian unik, saat adegan keempat yang menggambarkan rakyat Solo bergotong royong, tiba-tiba Walikota Solo, FX Rudi Hadyatmo, maju ke arena pagelaran dan sontak pertunjukan tarian yang berjalan pun berhenti. Rupanya sang walikota ingin menyampaikan pentingnya nilai-nilai gotong royong pada masyarakat Solo. Bahkan, Rudi Hadyatmo ikut ambil bagian dalam adegan menyapu jalanan.

Pertunjukan spektakuler tarian kolosal malam itu berakhir dengan arak-arakan yang menggambarkan perpindahan Karaton Kartasura ke Surakarta. Prosesi kirab atau karnaval dari Ngarsupuro menuju Jalan Sudirman ini seperti menggambarkan sekitar 50 ribu rakyat yang pindah sambil membawa canthang balung, sesaji, gajah, kuda, dan 17 macam jenang. Inilah cikal bakal lahirnya Kota Surakarta Hadiningrat yang baru saja merayakan hari lahir yang ke-270 tahun. [Tauhid/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.