Cari dengan kata kunci

coverposintai.jpg

Pos Intai Bukit Vandering; Sebuah Pertahanan Wilayah dari Atas Bukit

Pos Intai Vandering merupakan peninggalan bersejarah di satu-satunya akses jalan darat yang menghubungkan Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang.

Pariwisata

Indonesia masih memiliki beberapa bangunan peninggalan masa penjajahan yang belum banyak diketahui. Salah satunya adalah Pos Intai Bukit Vandering yang terletak di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Bukan terletak di sebuah kota, berpagar tinggi, dinding-dinding yang tegap, Pos Intai Bukit Vandering terletak di Dusun Serukan, Desa Pasti Jaya, Kecamatan Samalantan. Letaknya juga berada di sebuah bukit, yang juga dikenal dengan nama Bukit Vandering.

Kini bukit tersebut memiliki jalan berkelok yang tepat menjadi sebuah tikungan U. Kawasan Vandering menjadi satu-satunya akses jalan darat yang menghubungkan Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang dan sangat dikenal oleh para pengguna jalan. Tikungan U tersebut sekaligus menjadi spot favorit anak-anak muda atau fotografer untuk melakukan swafoto.

Kawasan Vandering menjadi satu-satunya akses jalan darat yang menghubungkan Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang.

Tidak hanya jalanan berkelok, kawasan Vandering juga terkenal karena adanya bekas benteng pertahanan Pemerintahan Hindia Belanda. Totalnya ada empat benteng atau pos intai yang dibangun, namun tiga di antaranya sudah dimusnahkan oleh Belanda saat hendak meninggalkan Bengkayang.

Mengapa Belanda Membangun Pos Intai Vandering

Dulu ketika Jepang ingin mengambil alih Indonesia dari Belanda, Nippon cukup gencar melakukan agitasi dan propaganda. Karena itu, Belanda mencari cara agar tak merelakan begitu saja wilayah jajahan mereka diambil alih oleh Jepang.

Daerah Bengkayang, Kalimantan Barat, menjadi salah satu titik penting dalam perebutan kekuasaan ini. Merasa terintimidasi, Belanda akhirnya mendirikan pos pengintai di Bukit Vandering di Dusun Serukam, Desa Pasti Jaya, Kecamatan Selamatan, Bengkayang. Pos ini didirikan dari tahun 1939 sampai 1942.

Belanda tidak membangun pos intai ini sendiri melainkan dengan memaksa warga Bengkayang untuk membangunnya dengan menempatkan satu mandor orang Tionghoa yang secara penuh mempekerjakan masyarakat lokal di sekitar Bukit Vandering. Semua pekerja digaji secara harian.

Ketidaksukaan Belanda akan kehadiran Jepang di Bengkayang ditandai juga dengan didirikannya empat pos intai yang posisinya saling berjauhan. Masing-masing pos dibangun di atas satu puncak bukit. Sayangnya, saat Belanda akhirnya meninggalkan Bengkayang, tiga di antaranya dihancurkan mereka, hanya menyisakan satu yang masih utuh sampai saat ini.

Fungsi Pos Intai Vandering

Pos Intai Bukit Vandring dibangun sebagai pos pengintai untuk memantau gerak-gerik pasukan Belanda dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat setempat jika ada ancaman penyerangan. Letaknya yang strategis di atas bukit memungkinkan para pengintai melihat dengan jelas wilayah sekitarnya.

Pos Intai Bukit Vandring dibangun sebagai pos pengintai untuk memantau gerak-gerik pasukan Belanda dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat setempat jika ada ancaman penyerangan.

Pos ini juga digunakan Belanda sebagai titik untuk mengintai pasukan Jepang yang ingin merebut kekuasaan dari tangan mereka. Posisi pos intai ini cukup unik karena memiliki sumur yang hanya bisa memuat 1 orang dengan bagian atasnya dicor dengan semen yang cukup tebal. Di antara posisi ini, ada parit-parit yang digunakan untuk tempat persembunyian prajurit, dengan lubang ventilasi sebagai lubang intai berbentuk persegi panjang.

Bukit Vandering masih mempunyai sebuah jalan setapak, berupa jalan kereta kuda yang merupakan jalan pintas yang pernah digunakan oleh kolonial Belanda. Jalan setapak itu memudahkan menuju Singkawang. Di bukit ini dulu, Singkawang terlihat jelas. Namun sekarang telah tertutupi oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Tidak hanya itu, jalan raya Bengkayang yang berkelok-kelok ini merupakan pembangunan kolonial Belanda.

Bukit Vandering masih mempunyai sebuah jalan setapak, berupa jalan kereta kuda yang merupakan jalan pintas menuju Singkawang yang pernah digunakan oleh kolonial Belanda.

Kabar pos Intai Vandering Hari Ini

Tahun 2005, pos intai ini dipugar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan menambahkan akses tangga dari jalan raya dan payung penutup diatas pos Intai. Bukit Vandering pernah mendapat kunjungan dari para peserta lomba sepeda. Peter Pouly dari Singha Infinite Cycling Team Thailand bersama puluhan pembalap yang berjuang keras menaklukkan bukit Vandering dalam Tour de Khatulistiwa etape ke-3 Bengkayang-Singkawang, Oktober 2014, meskipun diguyur hujan lebat dan jalanan licin.

Hingga saat ini, Pos Intai Bukit Vandering di Bengkayang tetap dijaga dan dipelihara sebagai monumen bersejarah. Di sekitar pos, terdapat plakat dan penanda yang menjelaskan sejarah dan makna pentingnya bagi masyarakat setempat.

Pos Intai Bukit Vandring menjadi saksi bisu dari perjuangan dan semangat patriotik yang diperlihatkan oleh masyarakat Bengkayang dalam melawan penjajah. Salah satu perlawanan itu ditandai dengan membeloknya warga Bengkayang yang dipimpin komando Panglima Ali Anyang yang adalah seorang pemuda Dayak. Ia mengumpulkan anak-anak muda Bengkayang untuk kembali menghantam Belanda dan juga termasuk Jepang pada 1945 sampai 1949. Dengan demikian, monumen ini menjadi sumber inspirasi dan pengingat akan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan kebebasan.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • direktori pariwisata, borneo, akurat,