Cari dengan kata kunci

Masjid Raya Singkawang, Cermin Kerukunan Multi Etnis Kota Singkawang

cover_masjid_raya_singkawang.jpg

Masjid Raya Singkawang, Cermin Kerukunan Multi Etnis Kota Singkawang

Dibangun berdampingan dengan vihara. Menjadi simbol kerukunan antar agama dan etnis.

Pariwisata

MASJID raya ini terlihat begitu megah. Paduan warna hijau dan putih pada dinding masjid membuat masjid terlihat terang. Gunung Poteng atau dikenal juga dengan Gunung Jempol yang melatari bangunan masjid menambah keindahan masjid ini. Pada malam hari, lampu-lampu menerangi setiap sudut bangunan dan taman.

Untuk masuk ke halaman masjid, Anda harus melewati 15 anak tangga. Tangga-tangga ini terletak di sebelah kanan, belakang, dan sisi kiri. Masjid begitu bersih dan tertata rapi. Di dalam masjid terdapat tiang penyangga dari kayu ulin yang kokoh menopang masjid. Lubang ventilasi dengan jendela-jendela besar menyejukkan suasana.

Itulah Masjid Raya Singkawang yang berlokasi di Jalan Merdeka No. 21, Pasiran, Singkawang Barat, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

“Ini merupakan masjid kebanggaan masyarakat Muslim Singkawang dan masjid tertua…,” tulis Claudia Kaunang dkk dalam 101 Travel Tips & Stories: Indonesia 2.

Masjid Raya Singkawang didirikan tahun 1885 oleh dua saudagar India, Bawasahib Marican dan putranya, Haji. B. Achmad Marican. Menurut data Kementerian Agama Republik Indonesia, keduanya merupakan pedagang yang berasal dari Distrik Karikal, Kalkuta, India. Mereka melakukan pelayaran ke Hindia Belanda dan tiba pada 1870. Kedatangan Bawasahib Marican sebagai saudagar permata India mendapat perhatian pemerintah Belanda. Dia diangkat menjadi “kapiten India”, yang bertugas menangani urusan sesama India, pada 1875.

Selain usaha batu permata, Bawasahib Marican berkebun kelapa dan gambir serta beternak sapi untuk memenuhi ransum tentara Belanda.

Masjid Raya Singkawang dibangun di atas tanah milik Bawasahib Marican yang berbentuk segitiga. Ukurannya kecil dan bentuknya masih sederhana. Tak ada menara pula yang menandakan sebuah masjid.

Pada waktu hampir bersamaan dengan pembangunan masjid, seorang “kapiten Tionghoa” membangun sebuah tempat ibadah. Uniknya, letaknya berdekatan dengan masjid Bawasahib Marican.

“Kendati berdampingan, para pengikutnya tetap hidup dalam keharmonisan dan kedamaian, tidak pernah terjadi pertikaian antar etnis maupun antar agama,” tulis Kementerian Agama RI.

Singkawang dikenal sebagai “Kota Amoy” karena banyaknya orang Tionghoa yang tinggal di sana. Mereka datang untuk berdagang dan menambang emas. Perdagangan dan kemilau emas Kalimantan Barat juga menarik orang-orang India. Selain berdagang, mereka ikut menyebarkan agama Islam.

Menurut Risa dari Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas dalam “Islam di Kerajaan Sambas Antara Abad XV-XVII: Studi Awal tentang Islamisasi di Sambas” di Jurnal Khatulistiwa Vol. 4 No. 2, September 2014, Islam masuk ke Kerajaan Sambas awal abad ke-15. Namun perkembangan Islam masih terbatas daerah pelabuhan dagang dan kota-kota kecil. Di sana terdapat aktivitas perdagangan yang melibatkan para pedagang muslim Tionghoa, India, dan Arab.

“Mukimnya para pedagang Islam dalam kegiatan perdagangan baik sekadar transit atau menetap, membuat mereka berkembang biak di sekitar wilayah pelabuhan, sehingga Islam pun mulai berkembang di Sambas,” catat Risa.

Penyebaran Islam meluas, termasuk ke Singkawang –dulunya bagian dari wilayah Sambas. Antara lain ditandai dengan keberadaan masjid. Salah satunya masjid yang dibangun Bawasahib Marican.

Masjid ini pernah mengalami kebakaran tahun 1937. Kemudian dibangun kembali dan diperluas pada 1940 oleh tiga putra Bawasahib Marican, yakni Haji B. Achmad Marican, B. Mohammad Haniffa Marican, dan B. Chalid Marican. Pada 1953, sebuah menara didirikan di samping kiri masjid oleh tiga orang, yakni oleh H. Munir Haniffa, Djenawi Tahir, dan Kassim Chalid.

Dalam perjalanannya, masjid ini mengalami beberapa kali perluasan. Renovasi pertama dilakukan pada 1974 dengan biaya dari pemerintah daerah. Renovasi kedua dilakukan empat tahun kemudian dengan biaya swadaya yang diinisiasi pengurus masjid.

Pada 1998, Masjid Raya Singkawang direnovasi total, dengan perkiraan pembangunan selama 2,5 tahun. Tetapi kurangnya dana membuat rencana tersebut tertunda. Hingga akhirnya pada 2007, setelah masjid berada di bawah tanggung jawab pemerintah Kota Singkawang, Gubernur Kalimantan Barat Usman Djafar melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya renovasi Masjid Raya Singkawang. Pelaksanaanya baru terwujud awal tahun 2008.

Renovasi membuat bangunan masjid terlihat besar dan modern. Menarik, renovasi masjid melibatkan banyak pihak. Bukan hanya umat Islam tapi juga non-Islam. Bukan hanya dana tapi juga desain. Desain masjid dikerjakan seorang Nasrani bernama Yohannes Reginaldus Adipurnomo Ricky, yang juga mendesain Gereja Katedral Sanggau dan Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak.

Walaupun mengalami pemugaran, sejumlah bangunan lama dipertahankan. Seperti kubah masjid kecil dan tugu berwarna emas di sisi kanan masjid bagian belakang. Tugu yang dibangun tahun 1880 ini memiliki bentuk kubus dengan ketinggian 3 meter serta di bagian tengahnya terdapat kolam berdiameter 5 meter. Masjid juga mempertahankan satu menara yang ada di belakang. Sementara kubah besar dan dua menara di sisi belakang merupakan hasil renovasi tahun 2008. Sebagaimana masjid pada umumnya, ada penambahan bangunan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di belakang masjid.

“Banyak umat Muslim yang berkunjung ke Singkawang menyempatkan diri untuk shalat dan berfoto di masjid berpagar putih dengan dua menara yang didominasi warna hijau ini,” tulis Caludia Kaunang dkk.

Masjid Raya Singkawang berlokasi sekitar 200 meter dari Vihara Tri Dharma Bumi Raya, vihara tertua di Singkawang. Masjid di tengah-tengah kawasan tempat tinggal masyarakat Tionghoa ini seperti menjadi cerminan kerukunan beragama yang sudah berlangsung lama di Kalimantan Barat.

Untuk berkunjung kesana tidaklah sulit. Letaknya yang strategis, di pusat kota, membuat akses menuju masjid cukup mudah. Anda bisa masuk melalui Jalan Raya Diponegoro maupun Jalan Budi Utomo.*

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Anita Chairul Tanjung. Pesona Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2013.
    Claudia Kaunang, dkk. 101 Travel Tips & Stories: Indonesia 2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2017.
    Risa. “Islam di Kerajaan Sambas Antara Abad XV-XVII: Studi Awal tentang Islamisasi di Sambas”, Jurnal Khatulistiwa Vol. 4 No. 2, September 2014.
    Sejarah Masjid Raya Singkawang, https://simas.kemenag.go.id, diakses 3 September 20

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.