Cari dengan kata kunci

Keraton Surakarta, Pusat Pemerintahan di Masa Lalu

Keraton_Surakarta_1200.jpg

Keraton Surakarta, Pusat Pemerintahan di Masa Lalu

Di tempat ini, terdapat sebuah bangsal yang bernama Bangsal Sewoyono. Bangsal ini dibangun oleh Pakubuwono X pada tahun 1843 Jawa.

Pariwisata

Bisa dibilang, inilah pusat perkembangan kesenian dan kebudayaan di Solo. Bahkan, pada masa lalu, area ini juga merupakan pusat pemerintahan yang ada di Solo. Keraton Surakarta Hadiningrat merupakan tempat yang harus Anda kunjungi jika datang ke Solo. Di sini, Anda tidak hanya akan melihat bangunan peninggalan kejayaan di masa lalu, tapi juga belajar kearifan yang ditinggalkan generasi terdahulu.

Keraton Surakarta Hadiningrat mulai dibangun pada tahun 1743 dan diresmikan pada 17 Februari 1745 atau 17 Suro 1670. Keraton ini merupakan pindahan dari keraton sebelumnya yang berada di Kartasura. Keraton di Kartasura hancur setelah terjadinya pemberontakan.

Saat mencari lokasi pembangunan keraton yang baru, ada tiga daerah yang diajukan. Ketiga desa tersebut adalah Desa Kadipala, Desa Sana Sewu, dan Desa Sala. Pilihan lalu jatuh pada Desa Sala karena meski dipenuhi rawa, desa ini dianggap paling cocok dijadikan sebagai tempat dibangunnya keraton yang baru.

Dari Gapura Gladag, melewati alun-alun utara, pengunjung akan sampai di Kori Brodjonolo. “Brodjonolo” berasal dari dua kata, yaitu “brodjo” yang berarti senjata tajam dan “nolo” yang berarti hati. Orang-orang yang melewati kori ini diharapkan memiliki rasa dan menggunakan perasaannya sebagai dasar berperilaku.

Di seberang pintu masuk keraton, terdapat sebuah bangunan yang disebut Sitihinggil. Sitihinggil sebenarnya merupakan sebuah halaman yang ditinggikan hingga menyerupai gunung kecil atau punggung kura-kura. “Sitihinggil” terbentuk dari dua kata, yaitu “siti” yang berarti tanah dan “inggil” yang berarti tinggi. Konon, untuk meninggikan tanah di wilayah ini, digunakan tanah yang diambil dari daerah Tolowangi yang tanahnya harum.

Sitihinggil diperkirakan dibangun pada tahun 1766 Masehi  (1701 Jawa) atau pada masa Pakubuwono III. Hal ini merujuk pada nama lengkap tempat ini, yaitu Sitihinggil Palenggahaning Ratu, yang mengandung maksud Condro Sengkolo. Condro Sengkolo merujuk pada tahun pembuatan tempat ini.

Di tempat ini, terdapat sebuah bangsal yang bernama Bangsal Sewoyono. Bangsal ini dibangun oleh Pakubuwono X pada tahun 1843 Jawa. Bangsal ini berfungsi sebagai tempat menghadap raja saat perayaan Gerebeg atau perayaan hari besar. Selain itu, terdapat pula delapan meriam yang diarahkan menghadap utara. Kedelapan meriam tersebut diberi nama Mriyem Kyai Bringsing, Mriyem Kyai Bagus, Mriyem Kyai Nangkulo, Mriyem Kyai Kumborowo, Mriyem Kyai Kumborawi, Mriyem Kyai Sadewo, Mriyem Kyai Alus, dan Mriyem Kyai Kadal Buntung (Kyai Pamecut atau Kyai Kumali).

Setelah melewati Kori Brodjonolo, akan sampai di Baleroto. Baleroto merupakan tempat terbuka yang terletak di belakang patung kembar penjaga keraton, Cingkorobolo dan Baloupoto. Tempat ini dibangun pada masa pemerintahan Pakubuwono X.

Bagian selanjutnya adalah Kori Kamandungan. Ini merupakan pintu masuk dengan tipe kori kupu tarung yang berada di sebelah selatan Manderata. “Kamandungan” berasal dari kata “mandung” yang berarti berhenti. Hal ini dimaksudkan, setiap orang yang akan masuk ke keraton harus berhenti sejenak di tempat ini untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin.

Pada dinding sisi timur, barat, dan selatan Kori Kamandungan, dipasang sebuah cermin besar. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat kepada setiap orang yang akan masuk ke keraton untuk memeriksa penampilan mereka. Sementara, di bagian atas, terdapat gambar bendera merah putih (gula kelapa) dan bermacam senjata perang. Di bagian tengah gambar tersebut, terdapat gambar daun kapas dan di atasnya terdapat gambar mahkota. Gambar tersebut disebut Sri Makuto Rojo (simbol Keraton Jawa pada tempo dulu).

Setelah melewati Kori Kamandungan, akan tiba di sebuah tempat yang bernama Srimanganti. “Srimanganti” berasal dari dua kata, yaitu “sri” yang berarti raja dan “manganti” yang berarti menunggu. Tempat ini merupakan tempat tunggu bagi para tamu sebelum dipersilakan masuk ke Keraton Dalem.

Di bagian ini, terdapat dua bangsal yang saling berhadapan. Bangsal pertama adalah Bangsal Marakata atau Smarakata. Bangsal yang menghadap ke timur ini berfungsi sebagai tempat para Abdi Dalem Bupati Lebet yang akan menghadap raja serta tempat pemberian hadiah atau penghargaan kepada para Abdi Dalem Lebet. Selain itu, untuk mewisuda para Abdi Dalem Panewu Mantri.

Bangsal kedua adalah Bangsal Mercukundo. Bangsal ini merupakan tempat bagi para opsir prajurit dalem saat menghadap raja. Selain itu, bangsal ini juga merupakan tempat untuk menjatuhkan hukuman dan amarah kepada para putra raja, keluarga raja, atau abdi dalem yang melakukan kesalahan pada keraton dan negara.

Berjalan lebih ke dalam, sampailah di pintu masuk Karaton Dalem atau Karaton Inti. Pintu ini disebut Kori Srimangati Lor. Di atas pintu ini, terdapat gambar Sri Makuto Rojo dan tulisan angka Romawi MDCC LXXX atau tahun 1787 Masehi. Angka ini mengindikasikan pembangunan pintu yang dilakukan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV.

Di sebelah timur kori, terdapat ruang yang digunakan sebagai kantor wedono. Sementara, di sisi barat, terdapat sebuah ruang yang pada bagian pintunya terdapat gambar manusia yang memakai aneka macam senjata. Gambar ini menjadi simbol bahwa Raja itu murba wasesa atau berkewajiban mengadili dan menghukum orang yang berdosa.

Setelah melewati Kori Srimangati, akan tiba di halaman kompleks Kedathon. Halaman ini dilasai dengan pasir hitam yang diambil dari Pantai Parangkusumo dan Gunung Merapi. Halaman ini juga ditanami dengan 76 batang pohon sawo kecik. Selain itu, berbagai patung bergaya Eropa pun menjadi penghias halaman.

Bangunan-bangunan utama keraton adalah Sasana Sewaka, nDalem Ageng Prabasuyasa, Sasana Handrawina, dan Panggung Sangga Buwana. Sasana Sewaka merupakan bangunan peninggalan pendapa Istana Kartasura.

Di sebelah baratnya, terdapat nDalem Ageng Prabasuyasa. Ini merupakan tempat terpenting dari keseluruhan bangunan yang ada di Keraton Surakarta Hadiningrat. Di tempat inilah, berbagai pusaka serta tahta raja yang menjadi simbol kerajaan disimpan. Ndalem Ageng Prabasuyasa merupakan tempat pengambilan sumpah seorang raja ketika mulai bertahta, sebelum upacara pemahkotaan di Sitihinggil.

Berikutnya adalah Sasana Handrawina. Tempat ini merupakan tempat perjamuan makan resmi pihak kerajaan. Saat ini, bangunan ini sering digunakan sebagai tempat diadakannya seminar ataupun menyambut tamu asing yang datang ke Solo.

Berikutnya adalah Panggung Sangga Buwana. Bangunan ini merupakan sebuah menara setinggi lima lantai. Konon, menara ini merupakan tempat yang digunakan Susuhunan (raja) bersemedi untuk bertemu dengan Nyai Ratu Kidul, penguasa Pantai Selatan. Selain sebagai tempat bersemedi, menara ini juga merupakan benteng pertahanan untuk mengawasi keadaan di sekeliling keraton. Menara ini juga menjadi tempat untuk melihat posisi bulan sebagai patokan penentuan awal suatu bulan.

Keraton Surakarta Hadiningrat dibuka setiap hari, kecuali Hari Jumat. Hari Senin sampai Kamis, Keraton dibuka dari jam 08.30 WIB sampai 14.00 WIB. Sementara, pada Hari Sabtu dan Minggu, Keraton dibuka dari jam 08.30 WIB sampai jam 13.00 WIB.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.