Cari dengan kata kunci

Berziarah ke Persemayaman Abadi Para Korban Tsunami 2004

1207_thumb_Gerbang_hijau_dengan_ornamen_yang_unik_menandai_keberadaan_kuburan_massal_Ulee_Lheue_2.jpg

Berziarah ke Persemayaman Abadi Para Korban Tsunami 2004

Gelombang Tsunami yang menghempas Aceh dan banyak wilayah lainnya di pesisir Samudera Hindia telah menjadi tragedi kemanusiaan yang akan terus diingat oleh sejarah. Terutama bagi mereka yang ditinggalkan oleh sanak saudaranya, kejadian pada hari Minggu 26 Desember 2004 itu menjadi salah satu momentum paling menyakitkan dalam hidup mereka.

Pariwisata

Gelombang Tsunami yang menghempas Aceh dan banyak wilayah lainnya di pesisir Samudera Hindia telah menjadi tragedi kemanusiaan yang akan terus diingat oleh sejarah. Terutama bagi mereka yang ditinggalkan oleh sanak saudaranya, kejadian pada hari Minggu 26 Desember 2004 itu menjadi salah satu momentum paling menyakitkan dalam hidup mereka.

Banyaknya korban jiwa yang jatuh ketika itu membuat jasad yang ditemukan tidak memungkinkan untuk dikuburkan satu per satu karena keterbatasan tenaga yang ada. Karenanya, mereka yang selamat membuat sejumlah kuburan massal agar para korban meninggal dapat tetap dikuburkan secara layak.

Salah satu kuburan massal bagi para korban tsunami ini terdapat di Ulee Lheue. Daerah Ulee Lheue sendiri menjadi batas sisi Barat Laut dari Banda Aceh dan menjadi salah satu area terparah karena berhadapan langsung dengan arah gelombang pasang setinggi 21 meter itu.

Terletak di Jalan Pocut Baren No. 30, komplek pemakaman massal ini merupakan lahan bekas Rumah Sakit Umum Meuraxa yang juga hancur akibat diterjang Tsunami. Beberapa bagian dari rumah sakit masih dipertahankan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias sebagai bahan pembelajaran dan monumen pengingat bagi masyarakat.

Lahan kuburan ini mungkin sekilas tampak seperti lapangan rumput biasa dengan beberapa batu besar yang berada diatasnya. Tidak ada batu nisan yang menjadi pengenal mengenai siapa saja yang dikuburkan dalam makam ini. Hanya ada gerbang hijau setinggi kurang lebih empat meter yang menjadi penanda dari kuburan ini.

Di halaman dalam komplek terdapat penanda berupa plang yang menjelaskan letak kuburan dari korban dewasa dan kuburan bagi korban anak-anak. Seperti juga beberapa kuburan massal lainnya, di Siron dan Lhoknga, tanggal 26 Desember setiap tahunnya dilakukan semacam upacara peringatan atau ziarah massal untuk mengenang mereka yang wafat dalam tragedi tersebut. [Ardee/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.