Cari dengan kata kunci

Benteng Fort de Kock, Jejak Sejarah Era Perang Paderi

benteng_fort_de_kock_1200.jpg

Benteng Fort de Kock, Jejak Sejarah Era Perang Paderi

Selain daya tarik alam dan kulinernya, Kota Bukittinggi menyimpan banyak peninggalan dari masa pemerintahan Hindia-Belanda yang menjadi daya tarik wisata sejarah.

Pariwisata

Selain daya tarik alam dan kulinernya, Kota Bukittinggi menyimpan banyak peninggalan dari masa pemerintahan Hindia-Belanda yang menjadi daya tarik wisata sejarah. Selain Jam Gadang yang menjadi ikon kota dan rumah kelahiran Sang Proklamator Bung Hatta, kota ini juga memiliki sebuah benteng bersejarah yang patut untuk dikunjungi.

Benteng itu adalah Fort de Kock, sebuah benteng penting dalam catatan sejarah perjuangan masyarakat Bukittinggi mengusir penjajah. Benteng yang terletak di puncak Bukit Jirek ini menjadi saksi kegigihan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dalam melawan pasukan Hindia Belanda.

Benteng ini didirikan sekitar tahun 1826 oleh Johan Heinrich Conrad Bauer yang saat itu berpangkat kapten dan memimpin salah satu satuan pasukan tentara Hindia-Belanda ke wilayah pedalaman Sumatera Barat. Benteng ini sebenarnya diberi nama 'Sterreschans' yang memiliki arti benteng pelindung.

Nama Fort de Kock sebenarnya merupakan nama lain dari lokasi dimana benteng itu berdiri, yaitu Bukit Jirek. Nama lokasi ini didedikasikan Bauer kepada pejabat Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang sekaligus Komandan Militer (commandant der troepen) kala itu, Hendrik Merkus Baron de Kock.

Keberadaan benteng ini di Kota Bukittinggi tidak dapat dipisahkan dari sejarah Perang Paderi (1803–1838). Pertikaian antara Kaum Adat yang masih berpegang adat lama dan Kaum Paderi yang berpegang pada syariat Islam berujung pada masuknya tentara Hindia-Belanda ke dalam konflik tersebut.

Pemerintah Hindia-Belanda yang dimintai bantuan oleh Kaum Adat dengan leluasa mendirikan sejumlah benteng di wilayah dataran tinggi (darek) Minangkabau untuk mengalahkan Kaum Paderi, di antaranya Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort van der Capellen di Batusangkar. Perjanjian kerjasama antara Kaum Adat dan Hindia-Belanda tersebut pada akhirnya berbalik merugikan Kaum Adat sendiri dan menyebabkan runtuhnya Kerajaan Pagaruyung.

Bisa dikatakan hampir tidak ada yang tersisa dari bangunan asli benteng yang terletak sekitar 1 km di sebelah utara Jam Gadang ini. Pemandangan yang terlihat hanya sisa-sisa parit yang pernah ada di benteng tersebut. Di atas area benteng ini, kini berdiri sebuah bangunan bercat hijau yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk melihat pemandangan sekeliling Kota Bukittinggi. Karena ketiadaan wujud dari benteng aslinya, bangunan inilah yang sering diabadikan orang dalam foto-foto perjalanan mereka menyambangi Benteng Fort de Kock. [Ardee/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.