Cari dengan kata kunci

Batik Cirebon, Lebih dari Sekadar Mega Mendung

Batik_Cirebon_1200.jpg

Batik Cirebon, Lebih dari Sekadar Mega Mendung

Motifnya bukan hanya gumpalan-gumpalan awan putih. Proses pembuatannya pun lebih rumit dan butuh ketelitian.

Kesenian

SAMA halnya dengan Yogyakarta dan Solo, selain mempunyai keraton, Cirebon juga mempunyai tradisi membatik. Goresan canting yang diaplikasikan pada selembar kain ini menghasilkan karya seni yang indah. Menariknya, batik Cirebon memiliki dua versi, yaitu batik keraton dan batik daerah pesisir atau yang dikenal dengan nama Trusmi.

Batik keraton (Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman) pada awalnya merupakan hasil kecintaan keluarga keraton pada seni lukis. Dahulu, lukisan masih menggunakan daun lontar sebagai kanvasnya. Hasil lukisan kemudian dibawa keluar oleh para abdi dalem. Seiring waktu, batik Cirebon mengalami perkembangan; media gambar tidak lagi menggunakan daun lontar melainkan katun (kain).

Motif batik Cirebon yang paling terkenal adalah mega mendung yang berbentuk gumpalan-gumpalan awan putih. Motif ini memiliki makna kehidupan dunia atas, kebebasan, atau bisa pula awan pembawa hujan sebagai lambang kesuburan dan pemberi kehidupan.

Motif mega mendung dibuat oleh Pangeran Cakrabuana, putra Raja Pajajaran dan pendiri kerajaan Cirebon. Pangeran Cakrabuana juga paman dari Sunan Gunung Jati. Versi lain menyebut motif ini diadaptasi dari hiasan keramik yang dibawa Putri Ong Tien, putri Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Ming, saat menikah dengan Sunan Gunung Jati. Pernikahan ini menjadi gerbang masuknya pengaruh budaya dan tradisi Cina, termasuk dalam proses dan seni pembuatan batik keraton.

Ada perbedaan antara motif mega mendung dari Cina dan Cirebon. Misalnya, garis awan pada motif mega mendung Cina berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan motif Cirebon cenderung lonjong, lancip, dan segitiga. 

Umumnya batik yang berasal dari keraton memiliki warna cenderung gelap. Warna seperti hitam, merah tua, coklat mendominasi. Dalam hal tata letak, batik keraton umumnya tersusun horisontal, dalam tiga lajur yang menggambarkan jajaran atas, tengah, dan bawah. Ciri-ciri ini yang kemudian membedakan batik keraton dari batik daerah pesisir. 

Salah satu sentra industri batik pesisir adalah Trusmi, sebuah desa yang berjarak sekira delapan kilometer ke arah barat dari pusat Keraton Kesepuhan Cirebon. Keberadaan desa ini dikaitkan dengan nama Ki Gede Trusmi, seorang pemimpin agama Islam yang juga pengikut setia Sunan Gunung Jati. Dialah yang mengajarkan seni membatik sebagai sarana menyiarkan agama Islam.

Di masa lalu, penduduk Trusmi membuat batik untuk memenuhi permintaan keraton. Dalam perkembangannya, Tsumi menjadi pusat pembuatan batik di Cirebon. Mereka bukan hanya memproduksi batik keraton tapi juga mengembangkan motif-motif lainnya.

Batik pesisir atau dikenal dengan nama batik bangbirong memiliki warna dasar yang cerah, seperti biru, hijau, dan merah. Batik biasanya dikerjakan dalam dua kali proses untuk mendapatkan perpaduan dan persilangan warna (babaran), yaitu satu kali dengan warna merah, kemudian dilakukan pembatikan lagi dan dicelup biru, bahkan kadang dikembangkan dengan celupan kuning. Sementara motifnya berhubungan dengan alam sekitar, seperti motif udang, ikan, dan bunga.

Di masa lalu, pernah pula berkembang batik pecinan di Trusmi. Salah satu perajin yang terkenal adalah Gouw Tjin Liang, pebatik pecinan asal desa Trusmi yang kemudian menetap di daerah Kanoman. Keturunannya masih mewarisi ketrampilan membatik. Pada masa pendudukan Jepang pernah pula berkembang “batik pagi sore”. Dibuat untuk menyiasati sulitnya keadaan ekonomi dan pasokan bahan baku batik. Batik ini dibuat dalam dua bagian yang berbeda sehingga bisa digunakan untuk keperluan yang berbeda pula. 

Hingga kini, Trusmi tetap menjadi pusat kerajinan batik Cirebon. Para pengrajin umumnya membuat batik untuk jarit, sarung, ikat kepala, hingga taplak dan sarung bantal. Para pengrajin batik di Trusmi bukan hanya berasal dari Desa Trusmi tapi juga desa-desa di sekililingnya seperti Gamel, Kaliwulu, Wotgali, dan Kalitengah.

Pembeda batik Cirebon dari daerah lainnya adalah teknik wit, yaitu satu garis batas yang dibuat dengan cara diblok berlapis lilin agar terbentuk satuan garis lengkung yang halus. Proses pembuatannya rumit dan butuh ketelitian.

Sementara secara umum, motif batik Cirebon dibagi dalam lima kelompok ragam hias: wadasan (batu karang atau batu cadas), geometris, pangkaan (buketan), byur, dan semarangan. 

Wadasan menonjolkan gaya batik keraton. Beberapa motif wadasan yang terkenal antara lain mega mendung, singa payung, naga saba, dan taman arum. Geometris menampilkan garis dan bentuk geometris dengan motif seperti tambal sewu, liris, kawung, dan lengko-lengko. Pangkaan menampilkan variasi bunga seperti pohon atau bunga dengan motif meliputi pring sedapur, kelapa setundun, dan kembang terompet. Byur berupa bunga dan daun kecil dengan motif seperti karang jahe, mawar sepasang, dan dara tarung. Sementara Semarangan menampilkan motif berulang yang ditempatkan pada pola tertentu dengan motif seperti piring selampad dan kembang kantil.

Jika Anda ingin wisata belanja batik, Anda wajib berkunjung ke Trusmi, yang berjarak 4 km dari pusat kota. Berbagai model dengan harga yang ber-variatif ditawarkan di toko-toko sepanjang daerah Trusmi ini. Etalase-etalase toko sepanjang Trusmi menjadi daya pikat yang sayang untuk dilewatkan jika melancong ke Cirebon.*

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Seni Batik Mega Mendung Cirebon dan Pengaruhnya Terhadap Seni Mode di Indonesia. Artikel dari Menul Teguh Riyanti dalam jurnal Dimensi bulan September 2012.
    Asimilasi Budaya: Batik Mega Mendung Sebagai Produk Asimilasi Budaya Cina-Indonesia. Artikel Dita Dea Desita yang ditulis sebagai karya ilmiah di UI.

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.