Jangan terkecoh dengan namanya. Meski namanya lontong kupang, hidangan ini bukan berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Lontong kupang merupakan makanan khas Kabupaten Sidoarjo yang juga bisa ditemui di kota-kota lain di Jawa Timur.
Menurut Dukut Imam Widodo dan Henri Nurcahyo dalam Sidoardjo Tempo Doeloe, kupang lontong benar-benar asli Sidoarjo. “Orang Malang atau Gresik, rasanya sulit untuk bisa membuat makanan ini. Kalau tokh di kedua kota itu ada yang jualan kupang lontong, pasti yang njualan Wong Sidoarjo! Jadi rupanya memang sudah ditakdirkan bahwa hanya Wong Sidoardjo saja yang bisa bikin kupang lontong yang uenak tenan,” tulis mereka.
“Rasa manis, segar dan gurihnya memang luar biasa lezatnya.”
Nama “kupang” merujuk pada hewan laut sejenis kerang kecil seukuran beras atau biji kedelai. Hewan ini mudah ditemukan di pinggir pantai atau lumpur berair asin.
Nama “kupang” merujuk pada hewan laut sejenis kerang kecil seukuran beras atau biji kedelai.
“Biasanya, kupang hidup di daerah berombak kecil. Pada musim penghujan dan keadaan ombak di pesisir pantai kecil, jumlah kupang yang berada di perairan pantai yang berlumpur lebih banyak. Tetapi pada musim kemarau, jumlah kupang lebih banyak daripada musim penghujan,” tulis Sukiman Prayitno dan Tri Susanto dalam Kupang dan Produk Olahannya.
Kupang memiliki beberapa kandungan yang baik bagi tubuh seperti Fe (zat besi) dan Zn (zinc/seng). Zat besi diperlukan tubuh untuk pembentukan sel-sel darah merah. Sedangkan zinc merupakan komponen penting beberapa enzim untuk sistem metabolisme tubuh.
Selain itu, kupang mengandung asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan tubuh untuk membantu metabolisme kolesterol. Kandungan proteinnya juga cukup tinggi sehingga bisa menjadi alternatif sumber protein hewani.
“Bila dibandingkan dengan makanan rakyat yang lain, seperti kerupuk atau tahu, kandungan gizi pada kupang jauh lebih tinggi,” ungkap Sukiman dan Susanto.
Tak semua jenis kupang cocok untuk diolah menjadi lontong kupang. Kupang putih (Corbula faba Hinds) lebih dipilih daripada kupang merah (Musculitas Senhausia) karena dagingnya tak mudah hancur. Harganya pun lebih murah, kendati soal rasa masih kalah dari kupang merah.
Tak semua jenis kupang cocok untuk diolah menjadi lontong kupang.
Membuat hidangan ini cukup mudah. Kupang terlebih dahulu dicuci bersih kemudian direbus. Setelah masak, kupang diangkat dan ditiriskan. Barulah kupang ditambahkan ke dalam lontong dan lentho –campuran singkong parut, kacang tolo, kelapa parut, dan bumbu (bawang putih, ketumbar, garam, dan gula). Setelah diberi kuah petis dan sedikit perasan jeruk nipis, hidangan ini siap disajikan. Biasanya bersanding dengan sate kerang dan es degan (kelapa muda) untuk mengurangi alergi.
Menurut Arsiniati M. Brata-Arbai dan Budiono dalam “Kupang, Sumber Fe dan Cu sebagai Alternatif Penanggulangan Anemia” pada Prosiding Seminar Nasional Makanan Tradisional, selain daging kupang yang dimakan, rebusan air kupang dapat dibuat petis kupang dan kerupuk kupang.
“Kupang lontong yang dijual, dibuat dari kupang yang sudah direbus dengan kuah dari air rebusan yang ditambah dengan petis kupang, cabe, bawang putih dan jeruk,” tulis mereka.
Arsiniati M. Brata-Arbai dan Budiono menyebut kebanyakan penjual hidangan ini berasal dari Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo. “Desa Balungdowo merupakan desa di mana penduduknya sebagian besar adalah penjual makanan ‘kupang lontong’ yang banyak dijual di Surabaya dan Sidoarjo,” tulis Arsiniati M. Brata-Arbai dan Budiono.
Kuliner ini bermula dari Desa Balongdowo yang diwariskan turun-temurun.
Asal-usul hidangan ini tidak dapat ditelusuri. Namun, berdasarkan penelitian Rahma Sasi Safrida dan Dwi Kristiastuti Suwardiah dalam Sejarah dan Keberlanjutan Kupang Lontong di Kabupaten Sidoarjo di Jurnal Tata Boga Vol. 5, No. 3, 2017, kuliner ini bermula dari Desa Balongdowo yang diwariskan turun-temurun.
Menurut kepercayaan masyarakat Balongdowo, keberadaan kupang di laut yang melimpah erat kaitannya dengan Dewi Sekardadu, dewi kemakmuran. Dewi Sekardadu, imbuh Safrida dan Suwardiah, adalah seorang putri dari Blambangan yang meninggal di laut. Jasadnya ditemukan oleh nelayan kupang dari Balongdowo. Sejak itu, para nelayan kupang melakukan upacara Nyadran setiap bulan Maulid, menjelang Ramadan. Mereka meyakini Dewi Sekardadu menjaga keberadaan kupang agar dapat diambil dan dikonsumsi warga Balongdowo.
“Dari beberapa fakta di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kupang lontong sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu, atau bahkan beberapa ratus tahun lalu, hanya saja tidak ada catatan khusus atau saksi hidup yang mempermudah penelusuran sejarah kupang lontong,” ungkap Safrida dan Suwardiah.
Keberadaan kuliner khas Jawa Timur ini bisa dijejaki dari cerita para tetua di Sidoardjo “Saya tanya 10 orang tua di Sidoardjo. Usia mereka di atas 70 tahun. Mereka semua menjawab bahwa kupang lontong itu sudah ada sejak mereka kecil,” tulis Dukut Imam Widodo dan Henri Nurcahyo.
Selain nasi krengsengan, lontong kupang kemudian merambah ke Surabaya.
Selain nasi krengsengan, lontong kupang kemudian merambah ke Surabaya. Bahkan, dalam Soerabaia Tempo Doeloe Volume 1, Dukut Imam Widodo menyebut lontong kupang sebagai salah satu makanan khas Surabaya yang sudah berusia lama. Seminggu sekali dia menyantap lontong kupang di Kenjeran (Surabaya) atau Sidoarjo.
“Kupang memang lekoh kalau dimakan dengan lonthong dan sate kerang. Dan sambel petisnya yang pedes itu bikin ngiler dan kemringet dan umbelen!” tulis Dukuh.
Dukuh tak menyebut sejak kapan hidangan ini ada di Surabaya. Dalam Soerabaia Tempo Doeloe Volume 2, Dukut Imam Widodo menyodorkan pengalaman H. Satmoko, salah seorang sesepuh Kota Surabaya: “Dengan 1 sen atau mata uang tembaga yang berlobang, arek Suroboyo wis iso sarapan lontong kupang atau tahu campur.”
Bagi yang penasaran dengan nikmatnya lontong kupang, kuliner ini bisa ditemui di Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, hingga Malang. Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp17.000 sudah bisa menikmati kelezatan kuliner khas Jawa Timur ini bersama segelas air kelapa segar.