Cari dengan kata kunci

“Banowati”, Senja di Astina

banowati-senja-di-astina.jpg

“Banowati”, Senja di Astina

Yayasan Swargaloka didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation sukses mempersembahkan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka yang mengangkat kisah “Banowati”, pada hari Minggu, 26 April 2015 di Gedung Pewayangan Kautaman.

Agenda Budaya

Yayasan Swargaloka didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation sukses mempersembahkan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka yang mengangkat kisah “Banowati”, pada hari Minggu, 26 April 2015 di Gedung Pewayangan Kautaman. Pementasan ini berkisah tentang Banowati yang harus mengorbankan cinta, hati dan perasaan dalam kehidupannya.

Seperti karya-karya Drama Wayang Swargaloka sebelumnya, pertunjukan kali ini juga berlangsung dengan sangat indah dan memukau. Perpaduan unsur kesenian wayang orang, wayang kulit, teater modern, tarian tradisional dan kontemporer, membuat setiap karya Drama Wayang Swargaloka mampu memanjakan penonton. Apalagi pertunjukan juga menggunakan dialog bahasa Indonesia diiringi musik gamelan yang digarap lebih populer dengan diberi sentuhan musik modern tentunya semakin mudah menjangkau selera generasi muda yang hadir.

Kisah ini menceritakan tentang Banowati putri Prabu Salya dari kerajaan Mandaraka. Banowati adalah gambaran seorang wanita yang dipuja sekaligus dibenci. Dipuja karena dia adalah putri nan cantik jelita dan seakan tiada bandingnya di dunia. Tak heran para Ksatria, Raja bahkan rakyat jelata bermimpi untuk dapat mempersuntingnya.  Banowati juga dibenci karena sebagian orang menganggapnya sebagai wanita yang tidak setia terhadap kodratnya sebagai seorang istri. Ia dianggap mengkhianati Duryudana, suaminya. Setelah menikah dengan Duryudana, ternyata Banowati masih tetap saja mencintai Arjuna.

Banowati jatuh cinta pada Arjuna, sejak pertama berkenalan. Sebenarnya Arjuna juga tidak menolak cinta Banowati, namun cinta keduanya kandas, karena akhirnya Banowati terpaksa menjadi istri Duryudana atas desakan ayahnya karena Duryudana memberikan harta yang berlimpah ruah. Akhirnya setelah menikah, Banowati sangat menderita karena cinta sejatinya tak dapat diraih.

Cintanya tidak pernah padam, hingga setelah tewasnya Prabu Duryudana dalam perang Baratayuda barulah Banowati dapat memenuhi angan-angannya untuk diperisteri Arjuna. Akan tetapi kesenangan itu tidak lama dinikmatinya. Malam itu juga, ia mati dibunuh oleh Aswatama, putera Resi Durna, yang membalas dendam atas kematian para Kurawa.

Mahabharata memang menyimpan berbagai ajaran moral yang tak pernah lekang oleh jaman. Kehadiran kisah ini semoga dapat menjadi inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya dan meningkatkan rasa cinta pada budaya sendiri. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.        

Tagar:

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.