Cari dengan kata kunci

Petaka Cupu Manik Astagina

petaka-cupu-manik-astagina.jpg

Petaka Cupu Manik Astagina

Yayasan Swargaloka didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation kembali mempersembahkan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka, kali ini mengangkat kisah “Petaka Cupu Manik Astagina”, yang sukses terselenggara pada hari Jumat, 26 Juni 2015 pukul 15.30 WIB di Gedung Sasono Langen Budoyo Taman Mini “Indonesia Indah”.

Agenda Budaya

Yayasan Swargaloka didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation kembali mempersembahkan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka, kali ini mengangkat kisah “Petaka Cupu Manik Astagina”, yang sukses terselenggara pada hari Jumat, 26 Juni 2015 pukul 15.30 WIB di Gedung Sasono Langen Budoyo Taman Mini “Indonesia Indah”.

Drama Wayang Swargaloka merupakan sebuah penyajian seni “Wayang Orang” garapan baru berbahasa Indonesia yang memadukan konsep wayang orang tradisional dan drama modern tanpa menghilangkan ciri khas yang antara lain memuat unsur seni tari, seni peran, seni suara dan seni rupa. Menyajikan kisah Ramayana dan Mahabarata, dengan sastranya yang khas, imajinatif, simbolik dan kaya makna filosofis.

Musik Drama Wayang Swargaloka dibangun oleh perpaduan antara perangkat gamelan ageng dengan beberapa alat musik barat yaitu saxophone, trumpet, trombone, flute dan violin. Ide musikal musik Drama wayang berpijak dari idom karawitan tradisi yang digarap kembali, di-interpretasi dan dikembangkan sehingga musik gamelan tersebut berubah menjadi musik gamelan progresif yang bernuansa “baru”.

Sekilas tentang kisah Petaka Cupu Manik Astagina, Batara Surya menganugerahkan benda ajaib dari kahyangan bernama Cupu Manik Astagina yang berisi keindahan kahyangan kepada Dewi Windradi ketika masih menjadi bidadari sebelum menjelma manusia. Dewi Windradi kemudian menikah dengan Resi Gotama dan dianugerahkan Dua Putra, yaitu Guarsa dan Guarsi serta satu Putri bernama Dewi Anjani. Kemudian Dewi Windradi memberikan cupu tersebut kepada putri kesayangannya, Dewi Anjani. Dewi Windradi berpesan apabila Anjani membuka cupu itu harus tanpa sepengetahuan siapapun.

Namun pada suatu hari Anjani tidak menyadari bahwa saudara-saudaranya mengamati gerak geriknya ketika membuka cupu tersebut dan menjadi perebutan di antara mereka. Resi Gotama yang mendengar anak-anaknya saling memperebutkan sebuah benda mengambil cupu itu dari tangan Anjani dan Resi Gotama mengenali cupu tersebut sebagai milik Batara Surya. Ia memerintahkan anaknya untuk memanggil Dewi Windradi, Ibunya.

Resi Gotama menanyakan asal cupu itu kepada Dewi Windradi dan Dewi Windradi hanya diam dan diam. Kemarahan Resi Gotamapun memuncak dan secara tidak sadar ia mengutuk Dewi Windradi yang hanya diam seperti batu. Dewi Windradi pun berubah wujud menjadi Tugu. Cupu tersebut kemudian di lempar oleh Resi Gotama yang langsung dikejar ketiga anaknya. Semuanya berusaha mendapatkan cupu tersebut yang jatuh ke dalam sungai.

Guarsa dan Guarsi masuk ke dalam sungai tersebut dan bertemu sosok manusia berwajah kera terjadi perkelahian di antara keduanya. Satu sama lain saling menyebut nama Guarsa dan Guarsi. Sejenak perkelahian terhenti. Dan keduanya menyadari bahwa telah berubah wujud menjadi kera.

Di sisi sungai yang lain, Anjani mencari kedua saudaranya. Ia merasa haus dan mengambil air dari sungai tersebut dan membasuh wajahnya yang lelah. Serta merta Anjani pun berubah wajahnya menjadi kera. Tak lama kemudian Guarsa dan Guarsi muncul. Mereka bertiga meratapi nasib malang itu.

Sekembalinya ke pertapan Resi Gotama, Resi Gotama memerintahkan mereka untuk bertapa menyucikan dan menenangkan diri. Guarsa dan Guarsi berubah nama menjadi Subali dan Sugriwa. Dan Dewi Anjani, dikemudian hari akan melahirkan kera putih sakti bernama Anoman.

Cerita Drama Wayang Swargaloka bersumber dari Epos Mahabarata dan Ramayana serta cerita-cerita Carangan (hasil karya pengembangan kisah asli), dengan interpretasi atau sanggit (pengolahan baru) dan digarap lebih atraktif, dinamis, mudah dicerna oleh kalangan awam yang belum mengenal wayang serta menggunakan dialog bahasa Indonesia sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas (tidak hanya etnis Jawa).

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kesenian tradisional dapat kembali ke dalam hati masyarakat, karena keindahannya sebenarnya tak lekang oleh jaman. Semoga pergelaran ini mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya serta meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.

Tagar:

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.